Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Happy three friends



Bertiga (berempat sih harusnya), ketemu lagi. Dari jaman sked sampe koas, merekalah orang yang mukanya selalu muncul di hadapan. Teman main dan teman belajar. Sama mereka udh zona nyaman banget, mau kentut, ketawa, nangis(gakpper ahsih), dan melakukan hal bodoh lainnya tanpa ragu. Pertama kali ketemu setelah 6 bulan tidak mengubah apa-apa. Gak ada cipika cipiki ala ciwi-ciwi, teriak-teriak sambil pelukan, cukup jabat tangan erat sambil tersenyum hangat. Haha eaaaaa. .
Beruntung zaman sekarang mau gosip gampang, tinggal pake jari atau mengorbankan pulsa paketan. Jadi pas ketemu kita udh biasa aja, kayak lagi jalan-jalan zaman koas bukan seperti sahabat yang saling kangen.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BREAKING BAD

My very first breaking bad
A cloudy morning, 
When every one rush to their workplace, their school 
A black sedan stopped in front of clinic 
They came up with unexpected reqeuest 
'Please confirm the death of my acquitance, ........ in my car'
What the heck, some serial killer movie just occupied my mind, why? Because I see no worry or sadness in his eyes. Is he the killer?
Despite my silly judgment I look foward, a man lying over his mom and brother (maybe) in that tiny space, he has no pulse, no breath, no warmth, dilated pupil with dry and cracked kornea. "He must be dead" I whisper my self several time. I suppose to find rigor mortis but it's seem imposible. I waited about 5 seconds. I learn that woman face, her worries, her tear and hopeless in her eyes. I touch her hand slightly and whisper her a bad word, a word that she doesn't want to hear, even for me.
"I'm sorry he's gone"
I don't know why I'm feeling sorry, because  what I said make the reality bitter because it is the reality
Than the car door closed, they are going home, with grieving for the dead body on their lap.
I'll remember her sad cry, her tears, her voice all over my head. And my feet felt like shaking.
What if my judgement wrong, 
What if he still have his life even for a tiny chance
What if he just brain dead? But well in that conditions it's dead already
But first time is always be first, 
That was my first breaking bad
Even not my first seeing dead.
But it's my first time alone
My first time to tell the family, to announce dead with my own lips
That's trully a horrible moment
Life is short
Everybody knew it, but not everybody acknowledge it

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wanita tua dalam gubuk reot

Bukan, ini bukan cerita fiksi tentang penyihir jahat yang gemar memangsa anak-anak. Ini hanyalah sebuah kisah nyata, secuil dari kenyataan sekitar kita.

Seorang nenek terbaring, lemah di gubuk kayu miliknya. Sepotong kain sarung usang menutupi sebagian kecil auratnya. Ah, bagi nenek setua itu hukum aurat tidak berlaku lagi baginya.

Sesaat setelah mataku bersirobok dengan nenek itu, sejenak aku melihat sekitar. Rumah ini hanya terdiri dari 1 ruangan tidak bersekat. Sebuah kasur kapuk tua yang sudah tipis dan terlipat. Sepertinya itu bukan milik si nenek, dia terlihat tidur dengan bantal luar biasa kumal yang menyangga kepalanya sekarang. Beberapa teko dan gelas plastik tergeletak 2 meter dari nenek tadi. Beberapa lemari tua tampak di sudut rumah, dan sebuah pintu di bagian belakang rumah langsung menuju ke halaman luar. Rumah ini jelas bukan rumah tanpa jendela, ada 2 bilah papan yang didesain sebagai jendela namun tidak digunakan sebagaimana fungsinya. Nenek tua itu pasti tak sanggup dan siapapun yang tinggal dengannya nampaknya juga tidak peduli untuk membuka jendela.

Ini kali kedua aku kesini,  kali pertama aku menemukannya terbaring kesakitan dengan kaki, dan perut yang membengkak. Duhai gusti, pasien dengan gagal jantung seperti ini harusnya sudah dirawat di rumah sakit. Namun yang menjadi masalah adalah tidak ada yang bisa menemaninya saat dirawat, meskipun pemerintah bisa mengratiskan biaya, siapa yang akan menjaganya dI rumah sakit?

Kali ini saat aku kunjungi kondisinya nenek sudah baikan namun tetap saja masih ditemukan pembengkakan di kedua kakinya, meski sudah berkurang dari 1 minggu sebelumnya. Kagetnya, tangan kiri si nenek bengkak maksimal. "Lah ini kenapa? Kok tetiba eden lokal begini?" Usut punya usut nenek ini dengan santainya mengatakan kalau dia digigit kaki seribu beberapa hari yang lalu saat membersihkan sampah.

Membersihkan sampah? Dengan kondisi begini? Namun mau bagaimana lagi tidak ada anak cucu yang mampu mengurus orangtua yang sudah mengurus mereka hingga dewasa. Bagaimana jika itu nenek saya? Atau ibu saya? Atau diri saya sendiri kelak, ya Allah. Hanya berdecak miris dan kasihan  tidak dapat membantu apa-apa. Untungnya hidup di kampung beberapa tetangga masih dapat membagi rizki mereka sekedar untuk makan si nenek. Untuk urusan menemani di bangsal rumah sakit ketika nenek ini harus dirawat tentu saja merupakan permasalahan yang berbeda.

Menghubungi panti sosial mungkin adalah keputusan yang terbaik, meski belum dicoba semoga nenek ini bisa mendapatkan yang terbaik #hosh

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tarusan Kamang, si Danau Labil

Sekilas foto diatas hanya tampak seperti 2 gadis narsis, lagi foto di danau duduk diatas rakit reot plus abang-abang tukang rakit yang sok-sok an candid. Terlihat sangat biasa bukan?

Yang luar biasa adalah danaunya, danau di daerah Tilantang Kamang, kab. Agam Sumatera Barat ini baru muncul 1 bulan yang lalu sebelum kami bertandang kesana. Ya danau ini memang sangat labil untuk ukuran danau. Dalam waktu yang tidak bisa diprediksi sebuah dataran cekung yang tiba-tiba diisi oleh air. Menurut warga setempat, sebelum cekungan yang awalnya hanya padang rumput luas ini berisi air terdengar suara gemuruh seperti guntur dari bebatuan di bawah bukit dan kemudian perlahan tapi pasti danau akan cekungan tadi akan terisi membentuk danau yang luas. Kapan air nya surut dan kapan munculnya belum ada yang benar-benar meneliti. Namun setiap danau ini muncul biasaya banyak ikan yang mulai berhabitat disana. Akhirnya masyarakat setempat membuat kolam-kolam ikan di tanahnya masing-masing yang berada di cekungan danau dan dengan kearifan lokalnya ikan manasaja yang berakhir di kolam seseorang maka ia akan diklaim sebagai milik empunya kolam.

Meski sudah mulai dikelola oleh pemerintah, danau ini masih terlihat 'sangat alami' alias masih banyak aspek yang perlu di perbaharui agar tempat ini menjadi lokasi wisata yang lebih nyaman.

Sedikit mengenai danau bermuka dua di tarusan kamang ini, meski bukan bidang saya tapi jaman sekarang ini internet cukup menjelaskan secara kasar mengenai asal muasal sebuah danau. Danau ini merupakan danau karst, yaitu danau yang terbentuk dari bebatuan kapur. Biasanya batu kaput ini akan tergerus oleh hujan dan membentuk sungai-sungai kecil dan kemudian menjadi danau. Biasanya bebatuan kapur mudah ditemukan di wilayah pantai atau pegunungan kapur.

 Yang menjadi keunikan dan danau karst di tarusan kamang ini karena setelah ada yang meneliti (akhirnya ada juga yang meneliti , memang ya wilayah pelosok di nusantara ini masih banyak yang belum terekspos. Terimakasih kepada sosial media dan internet), danau ini terhubung langsung dengan sungai-sungai bawah tanah.

Setiap mendengar kata sungai bawah tanah selalu terbayang pelajaran geografi mengenai lapisan-lapisan bumi. Pernah nonton film Sanctum? itu lho film ttg ekspedisi sebuah gua di papua yang terhubung dengan sungai bawah tanah dan ternyata mempunyai jalur kelas lepas. Jadi menurut saya fenomena danau labil yang hilang timbul dan terhubung dengan sungai bawah tanah itu keren. Menurut anda?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Anak-anak, enggrang dan rel kereta api.

Suatu sore di sudut kota Padang, langit sudah mulai menunjukkan keanggunan warnanya. Semburat merah, oranye, biru, putih membaur menunjukkan warna masing-masing. Lalu lintas sibuk, hari ini sabtu sore, sebagian dari mereka bergegas mengemasi diri bersiap untuk akhir pekan yang tertunda, sebagian lagi memang sedang menikmati akhir pekan disini, entah karena mereka memang penduduk daerah ini atau hanyalah menggunakan jalan yang sama seperti saya. Bus yang saya naiki bergerak pelan.  Manusia sibuk lalu lalang, isi kepala mereka seperti penuh dengan pikirannya masing-masing.  Diantara kesibukan sore itu 5 orang anak berjalan beriringan menyusuri rel. Setiap mereka memegang tali dengan batok kelapa diujung nya. Enggrang. Ya mereka membawa enggrang sederhana buatan sendiri. Sudah lama saya tidak melihat alat seperti itu setelah pemandangan anak dan remaja duduk diam menatap gadget sudah menjadi pemandangan biasa yang membosankan, siluet 5 orang anak ini begitu menarik.  Lima orang anak yang berjalan beriringan, postur mereka menunjukkan bahwa mereka sedang asik berbincang. Bagaimana rel kereta disore hari membuat mereka seakan-akan berada di tengah frame, yang dibingkai oleh warna warni langit yang menawan. Berharap dapat membekukan momen ini dalam bentuk digital, bus sudah terlanjur melaju.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

when universal coverage does not cover universally (part 2)

"karena DBD sudah masuk ke kategori KLB, dok", jawaban perawat setiap pertanyaan serupa terlontar.


dalam daftar list penyakit yang tidak ditanggung JKN, kejadian luar biasa, bencana alam, dan kecelakaan lalu lintas memang tidak termasuk dalam 'jaminan' yang dijanjikan. pemberlakukan sistem jaminan kesehatan ini bersifat wajib dan dipaksakan untuk semua warga negara, namun sepertinya sosialisasi tentang keuntungan dan kerugian penggunaannya masih belum jelas. Masyarakat sebagai konsumen harus tahu sesakti apa kartu dengan lambang BPJS di tangan mereka, dan apa batas kekuatannya, begitu juga tenaga kesehatan. Memaksakan tenaga kesehatan untuk terus melakukan tugas mereka tanpa tahu apakah jasa dan waktu yang mereka berikan dapat menjamin kehidupan keluarga mereka.

Sebagai tenaga kesehatan saya sendiri termasuk pro terhadap bpjs. Bagi sebagian besar pasien dengan penyakit kronis menahun, yang memerlukan pengobatan rutin, atau pemeriksaan laboratorium komprehensif yang seyogyanya menggali kocek lebih dalam BPJS tentu sangat membantu.  Atau pasien gawat darurat yang datang ke fasilitas yang tepat, keberadaan BPJS kesehatan sebagai insurance is assurance enough.
Diluar semua kekurangan sistem,  manajemen, kerempongan administrasi, dan kesenjangan dana besar harapan saya agar bpjs ini dapat tumbuh dari berkembang menjadi lebih baik, membuat warga negara nya merasa aman saat mereka harus sakit kapan saja,  Semoga. ..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

When universal coverage does not cover universally (part 1)

Katanya, di negaraku ditargetkan agar semua warganya mempunyai asuransi kesehatan. Negara tercintaku yang masih dalam masa tumbuh kembang ini ingin mengikuti langkah negara maju. Negara yang bisa memberikan rasa aman ada warganya saat mereka harus sakit. rasa aman dari biaya rumah sakit dan rasa aman dari diterlantarkan oleh fasilitas kesehatan karena tidak mempunyai jaminan.
Untuk hal itu diperlakukanlah BPJS, badan penyelenggara jaminan sosial, mereka mengadakan program JKN yang merupakan program Jaminan Kesehatan Nasional. Wow, bayangkan mereka menjamin kesehatan secara nasional, yang berarti semua warga negara terdaftar akan dijamin kesehatannya. Sebuah langkah besar bagi negara yang masih berkembang. Tak apa, negara ini sudah resmi berdiri sejak 1945, tidak salah jika kita berusaha mencoba menjadi lebih baik lagi.
Karena JKN merupakan sebuah program asuransi, maka ditetapkanlah iuran perbulan. Disediakan 3 kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing. setelah membayar iuran warga negara akan diberikan kartu dengan lambang BPJS dan JKN yang di cetak diatas kertas HVS. Pemerintah memberikan tunjangan kesehatan pada pegawai sipil berupa Askes yang sekarang telah disatukan dengan BPJS, kartu askes lama masih dapat digunakan karena nomor kartunya telah diintegrasikanpada BPJS. Pemerintah juga memberikan jaminan kesehatan bagi yang tak mampu untuk bayar iurannya berupa Jamkesmas, Jamkesda, Jamkespral semua nya digabungkan dalam satu badan penyelenggara yaitu BPJS. BPJS mengeluarkan kartu saktinya berupa KIS alias kartu indonesia sehat bagi yang tak mampu. Harus diingat, untuk mendapatkan KIS ini anda harus terdaftar sebagai warga miskin di kelurahan setempat dan mempunyai surat miskin. Hubungan yang tidak baik dengan ketua lurah dapat mengakibatkan kehilangan akal saat dokter memvonis anda mengidap penyakit yang membutuhkan biaya besar.
Dengan semua kartu sakti itu, masyarakat mengira terjaminlah mereka dalam urusan kesehatan, setiap harus berkunjung ke rumah sakit.
“Maaf Pak, apakah anda mempunyai rujukan dari puskesmas atau dari dokter keluarga yang terdaftar di BPJS anda?” 
Pasien kebingungan ketika ia berobat ke rumah sakit di daerahnya, berharap mendapat pengobatan langsung dari dokter spesialis menggunakan jaminan kesehatan yang mengklaim akan menjamin biaya pengobatannya. Namun apa lagi ini? Surat Rujukan?
Sistem rujukan bertingkat ini sejatinya bukanlah program BPJS, hanya saja ketika sistem ini diberlakukan BPJS juga mulai diperkenalkan, sehingga mereka menjadi terintegrasi satu sama lain. Sejatinya sistem rujukan bertingkat ini berfungsi untuk menguntungkan semua pihak. Sebelumnya rumah sakit tipe A, lebih serupa dengan puskesmas raksasa. Ketika orang dengan batuk pilek biasa ingin diobati oleh dokter penyakit dalam dengan subspesialis mikrobiologi molekuler. Ketika pasien dengan demam dengue berebut ruang rawat dengan pasien penyakit ginjal kronis dengan gejala akut, rumah sakit sebesar itu akan menjadi overload. Saat itu sudah menjadi pemandangan biasanya ketika di lobi rumah sakit dipenuhi pasien yang terbaring diatas bed menunggu bed kosong di bangsal, litterally mereka di rawat inapkan di lobi rumah sakit, tanpa terdaftar sebagai pasien, tidak divisite oleh dokter atau dikontrol kondisinya oleh perawat. Hal seperti itu hanya menjadikan rumah sakit semakin ‘sakit’
Di sisi sebaliknya sistem ini menuntut dokter layanan primer untuk menjadi lebih terampil menangani kasus sesuai dengan kompetensinya dan juga diminta untuk lihai merujuk pasien diluar kompetensinya sesuai dengan spesialiasi yang dituju. Menangani pasien yang diluar kompetensinya berarti tidak ada jaminan biaya dari BPJS, merujuk pasien dengan diagnosis yang harus selesai di tangan dokter umum membuat RS yang menerima tidak akan mendapatkan klain atas pasien yang dirawatnya
“Dok, mulai bulan April ini pasien dengan diagnosis deman dengue tidak mendapat klaim BPJS” kabar buruk dari perawat ruangan. Jika pasien dengan DB tidak dirawat di RS tipe C dimana mereka akan dirawat? di puskesmas yang tidak semuanya mempunyai fasilitas rawat inap? di RS tipe D yang sama sekali tidak ada, atau tidak menerima pasien BPJS karena mereka merupakan RS swasta yang tidak mau dibuat bankrut oleh BPJS. Atau sudahkan BPJS memberikan pelatihan pada warga negara ini untuk melakukan cek trombosit, HB dan hematrokrit  mandiri secara berkala dan melakukan resusitasi sendiri apabila terjadi syok?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tersengat Anemon


Waktu masih bocah dulu, entah pernah baca di Bobo atau di buku ilmu buku ilmu pengetahuan khusus anak-anak yang isinya gambar semua saya tahu bahwa anemon laut itu beracun, hanya ikan badut yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama ikan nemo sejak kartun disney ikan badut yang menjelajah samudra mancari anaknya itu muncul. Nah, berarti sejak belasan tahun lalu (kok berasa tua amat ya, haha) fakta bahwa si anemon itu beracun, saya suah tahu, dan dodolnya ketika ketemu di laut (ceritanya habis snorkling di Karimun Jawa-pamer) pas lagi foto-foto sama rumah nemo, rumahnya aku grusuk sembarangan, pas naik ke permukaan kulit tangan jadi perih dan langsung curiga sama anemon. Ternyata selidik punya selidik teman-teman yang lain juga mengeluhkan hal yang sama perih dan merah pada kuilt mereka, lebih parahnya lagi yang kena kulit paha yang emang lebih sensitif dibanding tangan. Salah sendiri ngapain berenang pake celana pendek, pake gamis noh, muehehehe.

Sebagai mahasiswa kedokteran yang sudah lulus, tapi belum disumpahi jadi dokter, kita berlima mearasa sangat dodol karena tidak bawa obat apa-apa untuk hal-hal seperti ini. Rata-rata hanya membawa paracetamol sama antimo. Daan, dodolnya lagi kita juga gak tau mau ngasih apa kalau disengat anemon, hahaha akhirnya dengan berbekal rasa malu, google dan harapan buat main ke laut lagi saya mencari hal-hal yang berhubungan dengan penangan pertama pada sengatan hewan-hewan laut.
dikapslok ya  biar jelas inti ceritanya apa

PENANGANAN PERTAMA PADA KECELAKAAN LAUT (gk kecelakaan laut juga sih, ini biar keren aja)

TERSENGAT ANEMON
Ini nih yang sudah membuat kulit kita muncul bruntus-bruntus perih mencurigakan, merah atau ungu. Gejalanya bisa cepat atau delayed, juga harus diperhatikan jenis makhluk yang menyengat, karena toksinnya berbeda-beda tiap spesies
tanda-tanda yang sama akan muncul pada tersengat ubur-ubur atau tentakel lainnya, kalau mau nyari secara ilmiah kata kuncinya 'Cnidaria envenomation', kalau medscape bisa liat disini http://emedicine.medscape.com/article/769538-treatment#d9
Reaksi muncul diakibatnya oleh nematokista yang di eksosotosis dari tentakel tersangka.
       Untuk pentalaksaan sementara dapat menggunakan cuka atau asam asetat 4-6% pada daerah yang terkena selama paling tidak 30 detik. Merendam dengan air hangat pada suhu 40-45 C selama 20 menit juga dapat mengurangi gejala akibat C barnesi and Physalia (itu sejenis ubur-ubur) . Tidak disarankan menggunakan urin, ethanol, methylated spirit.
     Kalau ada tentakel yang nempel, gunakan cuka atau cabut dengan forcep. harus diperhatikan apabila tentakelnya masih hidup, karena toksin nya masih akan keluar sampai beberapa jam kedepan.

Apabila yang muncul hanya berupa gejala lokal, yang mana symptomnya biasanya mild, dapat digunakan salep. Bersihkan dahulu daerah yang terkena dengan air laut, oles tipis salep hidrocortisone 2.5%, sampai gejala hilang, apabila setelah 2-3 hari tidak hilang, sebaiknya cari pertolongan medis. Apabila tidak tersedia, dapat meminum MP atau dexa, tapi obat-obat ini tidak untuk dikonsumsi jangka panjang, hanya untuk menghilangkan efek inflamasi. Untuk nyeri dapat menggunakan PCT, atau ibuprofen.

bagi para petugas medis, terutama dokter intership yang mencari lokasi iship dekat pantai agar bisa sekalian liburan, dan dengan sialnya lagi jaga di IGD, hal yang harus anda perhatikan adalah

  •  Tentukan tingkat keparahan, apakah pasien me(merlukan alat bantu kardiovaskular atau tidak
  • Apakah tentakel sudah dilepas
  • terapi apabila terdapat reaksi anafilksis degnan ABC dan efinefrine
  • wound care dan AB profilaksis
  • Baking soda efektif terhadap sengatan sea nettle (Chrysaora quinduecirra)
  • ATS TT
  • antihistamin dan salep corticosteroid untuk keluhan gatal
kalau ketemuya tersengat ubur-ubur jenis C. fleckeri, biasanya ada antivenomnya. isinya konsentrat Ig, indikasinya untuk menghindari efek neurotoksis dan miotoksik
antivenom diberikan sebanyak 3 ampul diencerkan 1:10 dengan NaCl, IV. Untuk cardiac arrest dapat diberikan sebanyak 6 ampul.

Ya ampun, anemon ama ubur-ubur aja, habis 2 halaman

selanjutnya,

2. Bulu Babi/ bulu landak/ sea urchin

Makhluk seperti rambutan busuk ini mempunyai duri sebagai mekanisme pertahanan mekanis dan juga dapat mengeluarkan racun dari sisa duri yang tertinggal. pastikan bulu babi tercabut dari tubuh yang terkena, hati2 apabila hendak melepaskan duri yang tertancap, gunakan sarung tangan atau alat bantu. Menghancurkan duri menjadi partikel kecil dengan memukulnya pada benda keras akan membantu tubuh untuk menyerap duri, untuk mempercepat proses penyembuhan.


  • Untuk pertolongan pertama, dapat diberkan amonia cair, apabila tidak tersedia, dapat digunakan amonia yang terkandung dalam air kencing. Disarankan untuk menggunakan air kencing pasien/korban, karena jijik kalau pake air kencing orang lain.hehe. Cara penggunaannya tinggal disiram, namun tetap disarankan untuk segera melakukan perawatan ke pelayanan kesehatan unutkmencegah infeksi sekunder
  • berikan TT


  • gunakan air hangat untuk meredakan nyeri. Air hangat  ( 114 F atau 45 C, tidak kurang) juga dapat mngurangi efek toksin.
  • apabila terdapat luka, beberapa sumber menyarankan untuk memberikan tekanan untuk menghentikan perdarahan, dapat menggunakan compression bandage
  • dapat menggunakan analgesik topical untuk mengurangi nyeri dan AB topical seperti gentamisin untuk profilaksis


referensi:
http://emedicine.medscape.com/article/769538-treatment#d9
http://emedicine.medscape.com/article/770053-treatment#d10





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rumah Sakit

I used to hate hospital, paling tidak ketika sudah mengenakan toga S.ked, bagi saya rumah sakit masih tidak menyenangkan.
Dulu bocah kecil kurus ini memang lumayan sering sakit, sekali dua kali terpaksa harus menginap di rumah sakit, dengan diagnosis thypoid. Merasakan malam di rumah sakit yang mengerikan, dan makanan rumah sakit yang lebih mengerikan lagi ditengah tubuh yang lemas karena kalah perang melawan kuman salmonella. Selanjutnya, entah kenapa setiap demam tinggi (yang selalu datang ketika malam dan baikan pagi harinya), diikuti dengan gangguan pencernaan, juga batuk pilek ringan saya hanya dibawa ke tempat praktek dokter terdekat dan bed rest di rumah. Sejak itu saya mulai merasa asing dengan suasana rumah sakit. Setiap menjenguk kerabat ke rumah sakit, setiap melihat tulisan 'anak berumur dibawah 7 tahun dilarang masuk', saya merasa rumah sakit bukanlah tempat yang bersahabat untuk manusia , apalagi anak-anak.

(skip)

Tiba2 waktu membawa saya kesini, mempelajari ilmu tentang manusia dan bagaimana caranya untuk memperbaiki kualitas hidup manusia terutama dari sisi kesehatan. Tidak mutlak memang, namun lebih dari 50% kemungkinan masa depan saya akan berada di rumah sakit berinteraksi dengan pesakit dengan jutaan kuman yang bertebaran disana. Dimulai dari sekarang, meski baru berperan sebagai asistennya asisten. Tidak secara langsung berhubungan dengan pasien, namun hampir setengah dari 24 jam jatah bernafas saya dalam sehari dilakukan di rumah sakit (ditambah dengan porsi jaga malam) ada sisi baru rumah sakit yang saya tangkap.

Rumah sakit ternyata bukan hanya tempat para kuman bertebaran (seperti yang saya kira dulu), tapi disana ada harapan. Harapan untuk kesembuhan dari keuarga pasien untuk orang-orang yang mereka cintai yang terbaring lemah di bed rumah sakit.

Disana terlihat besarnya pengorbanan orang tua menunggui anaknya yang sakit, berhari2 bahkan berbulan-bulan melupakan fisik mereka sendiri yang juga lelah.

Disana terlihat bagaimana seorang anak membuktikan baktinya pada orang tua mereka yang renta, terbaring sakit, saat mereka anak-anak yang sudah dewasa itu mempunyai kehidupan sendiri dengan keluarga kecil mereka mereka tetap merawat orang tua dengan rasa sayang dan hormat yang tidak dikurangi dengan semua masalah keuangan, waktu dan anak2 mereka yang masih kecil dan ditinggal dirumah.

Di rumah sakit sering terlihat wajah dengan kesedihan mendalam, wajah2 kehilangan yang tidak rela kehilangan, penyesalan, atau yang berusaha tegar meski dengan air mata di pelupuk mata, wajah2 yang berduka.

Tapi juga ada wajah yang berseri bahagia, memandang penuh kagum menyapa makhluk kecil yang telah mereka nanti selama 9 bulan, seorang laki2 yang terlahir kembali sebagai seorang ayah menyenandungkan azan dengan canggung di samping makhluk kecil yang terdiam bingung di dalam inkubator. Haru.

Ada perjuangan demi antrian peringanan biaya rumah sakit, bersaing antrian dengan pasien lain demi bpjs yang sistemnya masih terlalu muda untuk dikatakan bagus.

Ada kesenjangan status sosial yang membedakan fasilitas dan pelayanan yang didapat. Miris memang membandingkan ward kelas terendah yang seperti pasar dengan ward kelas tertinggi yang seperti kamr hotel berbintang, di bawah satu atap rumah sakit yang sama. Sebuah pr besar bagi sistem dan pelayanan kesehatan Indonesia.

Di rumah sakit terjadi banyak peristiwa besar dalam kehidupan manusia, lahir, melahirkan, dan kematian. Hanya pernikahan yang tidak dilangsungkan disana (kecuali bagi fachri dan maria di buku aac-nya habiburrahman😁).
Hal kecil yang bisa membuat saya bersyukur bisa menyaksikan semua itu. Alhamdulillah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koas anak- Tak Tergantikan#2


“Langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkok, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh tak terbilang. Maka yang manakah harta karun paling berharganya?”
“Wak Yati tidak sedang bicara tentang harta karun seperti yang selama ini dipahami banyak orang. Itu bukan tentang berjuta ton batubara yang terpendam di bawah tanah kami, beribu kilogram emas dan perak, ribuan hektar hutan-hutan sawit, itu juga bukan tentang koin-koin emas keluarga Van Houten yang ditemukan di loteng masjid kampung atau celengan indah naga dan peri-peri milik Nek Kiba”
“Kamilah harta karun paling berharga kampung”
“Anak-anak yang dibesarkan oleh kebijaksanaan alam, dididik langsung oleh keseharnaan kampung. Kamilah generasi berikut yang bukan hanya memastikan apakah hutan-hutan kami, tanah-tanah kami tetap lestari, tapi juga apakah kejujuran, harga diri, perangai yang elok serta kebaikan tetap terpelihara di manapun kami berada” – tere liye dalam serial anak mamak ‘Pukat’

Anak-anak, begitu Wak Yati menghargainya, mengikhlaskan dua orang anaknya dan turut berbahagia dengan anak-anak lain yang selamat dari sandera para penjajah. bukan ini bukan tentang resensi novel atau sejenisnya. Hanya sebuah cacatan kecil mengenai stase koas selama 9 minggu menyaksikan anak-anak keluar dan masuk rumah sakit dengan penyakit yang menawan keceriaan mereka. Ya ini masih cerita tentang koas anak.

Masa kanak-kanak merupakan fase paling menakjubkan dari seorang manusia. Terlebih ketika dalam kandungan bayangkan dalam 9 bulan segumpal darah dalam ukuran mililiter tumbuh, berkembang, membagi dirinya, berpindah dari atas ke bawah dari bawah ke atas, ketempat mereka yang seharusnya dan kemudian lahir dengan panjang ±50 cm. Bayangkan tinggimu bertambah 50 cm dalam 9 bulan. Kemudian lahir bayi lain yang terlalu cepat dari yang seharusnya. Mungkin kau sebut itu prematur, mungkin bagi para dokter itu pre term dan perlu perhatian khusus, tapi baginya itu perjuangan. Udara masih terlalu asing untuk dihirup, paru-paru masih terlalu lemah hanya untuk sekedar kembang kempis, hati yang bekerja keras membuang sisa darah dari ibu yang sudah tidak terpakai lagi. Bayi baru lahir yang terengut dari kenyamanan rahim yang melindunginya selama ini terpaksa untuk menangis namun terlalu lemah sehingga harus diberikan stimulus terlebih dahulu. Mungkin ia akan berhari-hari bahkan berminggu-minggu berada dalam inkubator, tapi entah mengapa setiap melihat perut mereka yang mencekung setiap mereka berusaha bernafas disanalah perjuangan bayi-bayi itu terlihat mengharukan.

Setelah lahir mereka masih punya 3 tahun kesempatan emas yang menakjubkan ‘golden period’. Di sana mereka mulai belajar mengenali wajah ibu mereka mereka, mengetahui bahwa benda berwarna merah itu adalah apel, mengeja kata-kata, tertawa riang saat kedua kaki mereka bisa berdiri diatas tanah. Ratusan ribu memori baru itu terbentuk, tersimpan dalam saraf-saraf otak mereka hingga dewasa. Saat kau melihat anak-anak yang memiliki takdir berbeda. Kesulitan menggunakan kedua kakinya untuk berdiri, kesulitan untuk menggerakkan lidahnya meski hanya untuk memanggil mama, atau tidak dapat mengejar perkembangannya agar setara dengan usianya.

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri anak-anak dengan segala kekurangan mereka, tentu membuat kami ‘para koas baru-yang baru saja bertemu dengan kenyataan’ bersyukur berkali-kali dengan kenyataan bahwa kami berdiri di sini, dengan semua fungsi organ yang lengkap, perkembangan yang sesuai dengan usia, dan otak yang meski tidak dapat mengingat semua pelajaran dengan baik dan benar tapi masih berada dalam batas normal alias dbn.

Tidak ada yang bisa memastikan masa depan anak-anak itu akan sama seperti teman-teman sebaya, namun juga tidak ada yang bisa mengatakan mereka tidak seberharga anak-anak yang tumbuh normal di luar sana, mereka tetap sama berharganya. Anak-anak sampai kapan pun akan tetap menjadi harta karun paling berharga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koas anak- TAK TERGANTIKAN #1


Satu hal yang mungkin saat itu hilang dari perhatian para petugas yang sibuk lalu lalang di IGD. Selain pasien yang pastinya pusat perhatian di ruangan itu, para dokter yang sibuk dengan statusnya, para koas yang lalu lalang entah ngapain, para perawat yang bolak-balik ngeinfus, dan petugas lainnya. Ada orang tua pasien (oh ya stase pertama saya di departemen anak, jadi ini ceritanya lagi di IGD anak). Ada beberapa orang tua yang masuk dengan anaknya pada senin pagi, masih ada ketika malamnya saya jaga malam, besoknya ketika lagi di divisi emergensi orang tuanya masih ada disamping anak mereka yang masih dalam kondisi gawat darurat.

Para dokter boleh bergadang, bertanggung jawab untuk tetap terjaga malam itu, memastikan mereka melakukan tugasnya dengan baik sesuai dengan profesi mereka. Para dokter boleh merasa sangat lelah karena tugas mereka menumpuk sangat banyak, boleh jadi mereka kehabisan energi, karena memikirkan diagnosis dan tindakan yang akan dilakukan untuk pasien, boleh jadi mereka stres karena kehidupan pribadi mereka yang terganggu karena hampir 72 jam di rumah sakit. Tapi ada apa dengan orang tua pasien. Mereka mungkin tidak perlu memikirkan apa-apa yang berhubungan dengan teori macam-macam penyakit. Tidak ada yang memaksa mereka untuk tidak tidur. Tapi apakah mereka dapat tertidur meski dipaksa? Meski mereka tertidur akankah mereka tertidur dengan nyenyak? Mereka mengabaikan rasa lelah  dan tetap bertahan disamping tempat tidur anak mereka. Menenangkan anaknya saat ia rewel karena rasa sakitnya dan berharap agar rasa sakit itu dapat dipindahkan pada mereka, agar anaknya tidak lagi merasakan sakit. Saat dokter memperhatikan semua selang dan alat-alat yang menempel pada tubuh pasien, orang tua hanya akan memperhatikan hela nafas anaknya yang berat dan merasakan sakit dibalik dadanya melihat perjuangan anaknya yang menyakitkan.

Lelah memang tapi tak ada yang mengalahkan lelah lahir batin orang tua pasien. Menyaksikan pemandangan seperti itu, tiba-tiba terbayang anak yang sudah sehat, beranjak dewasa dan kemudian memilih untuk tidak mendengar kata-kata orang tuanya, melupakan pengorbanan orang tuanya saat menemani mereka yang sakit di masa lalu. Semoga di masa depan, anak-anak yang terbaring sakit di ranjang IGD hari ini, atau yang berhari-hari terbaring lemas di bangsal rawat inap, tetap mengingat pengorbanan dan kasih sayang ayah ibu mereka, semoga.

#p.s terima kasih ayah, ummi untuk setiap energi ekstra yang dihabiskan ketika saya saya sakit :’)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koas anak-TAK TERGANTIKAN #intro


Sebuah simulasi kecil kehidupan yang kemungkinan besar akan saya lalui dimulai. Istilah bekennya ‘koas’, kadang-kadang pakai embel-embel ‘dek’, kalau pengen terhormat dikit bisa dipanggil dokter muda. Dimulailah perjalanan pertama di dunia klinis setelah 3.5 tahun bergerumul dengan pasien-pasien khayalan yang mempunyai nama serupa dengan diagnosis penyakit, menumpuk handout hasil tugas baca teman setutor (atau tutor orang), akrab dengan flipchart dengan tulisan ala kadarnya, dan mengasah keterampilan menghadapi pasien bohongan yang sudah di skenario, atau paling banter teman sendiri.

Sekarang, semua hapalan yang mungkin sudah lama tak diulang itu harus dibongkar lagi ketika diperlukan. Banyak ilmu klinis baru yang harus dipelajari, dilatih. Bukan lagi dengan pasien-pasien sehat, atau pasien-pasien kertas yang tidak akan rugi apa-apa kalau salah melakukan tindakan. Kehidupan rumah sakit dimulai. Rata-rata masuk jam 7 pulang jam 4, jam normal kantoran. Beberapa departemen punya gaya masing-masing, bisa masuk jam 5 pagi, atau bisa pulang jam 1 siang, atau malah pulang setelah matahari lama tenggelam.

Pernah sekali waktu, saya berada unit gawat darurat selama hampir 36 jam dan dilanjutkan 9 jam besoknya setelah sempat mengistirahatkan tubuh di kosan semalaman. Capek? Ya iyalah, semua koas memang harus merasakan pengalaman 36 jam tertahan di rumah sakit minimal sekali seminggu, meski ada akan ada waktu untuk makan, solat, mandi dan istirahat alakadarnya. Kalau denger cerita residen (dokter yang lagi ngambil program spesialis panggilanya residen),  perjuangannya lebih mati-matian lagi. Secara profesi mereka adalah asisten konsulen (dokter yang udah spesialis), dan koas adalah asisten dari residen, jadi emang koas itu adalah asistennya asisten. Tapi para residen ini yang secara langsung memberi intruksi tindakan pada pasien setelah konsultasi pada konsulennya, dan koas sedia kaki tangan untuk siap-siap asistensi ini-itu sambil curi-curi belajar dari tindakan yang dilakukan residen. Kalau beruntung bisa dapat bimbingan dari residen yang baik hati.

Setelah wara-wiri menangani pasien IGD sambil terus memantau perkembangan pasien, nah saatnya para residen sibuk dengan status-status yang harus ditulis dengan tulisan tangan, berlembar-lembar pula, mengertilah saya selain kenapa tulisan dokter makin lama makin gak jelas. Perjuangan ini yang sebenarnya sudah terlihat gak manusiawi lagi, emang harus dilakukan para dokter residen untuk profesinya. Kita para koas?  Ya mirip-mirip begitu sih, tapi masih lebih manusiawi sepertinya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Coffe for wound care management

"Kopi efektif mengobati luka, murah, simple. Bedanya dengan madu yang juga mempunyai efek penyembuhan yang serupa. Kopi mempunyai efek pewangi" -prof hendro

Kopi cenderung menyerap cairan inflamasi yang muncul pada luka.

Waktu kecil saya ingat cara tradisional yang sering digunakan ibu-ibu ketika jari kaki mereka luka atau cantengan. 
Waktu itu jelas saya tidak mengerti kenapa, tampak luarnya malah menjadi lebih mengerikan, luka yang kadang bernanah malah ditambal dengan kopi yang warnanya hitam pekat. Ternyata hari ini saya mengetahui ternyata kebijaksaan turun temurun yang saya kira hanya sekedar mitos. Kopi mempunyai efek terapeutik yang bagus untuk mempercepat proses inflamasi

Posted via Blogaway

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Al-buruj

https://www.evernote.com/shard/s308/sh/2cbdfdb6-8009-4282-b403-6f77bee91f96/1c4bc4619657bd9035701b20b1069af4


Posted via Blogaway

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

@rangergirang13

It’s not too late to write about us right? Ranger..? ;)
KKNM Unpad. Kuliah Kerja Nyata Unpad.
Gak seperti kebanyakan teman-teman lain yang pertama kali mendengar kata KKN bawaannya langsung males, ngebayangin bakalan di berada di tempat terisolir jauh dari hiruk pikuk kampus dan jatos yang superterkenal itu, saya malah excited buat KKN sejak tahun 2, apalagi setelah mendengar cerita senior-senior. Bayangan(dan harapan) saya buat KKN, --yang katanya punya tema belajar pada masyarakat---, akan seru. Pergi ke kebun memetik sayur dan buah, dan sorenya main ke pantai. Haha, namanya juga harapan.

Dan jreng... saya dan teman2 dengan sangat polosnya saat itu memilih indramayu saat memilih desa pilihan, berbekal google map yang mengatakan bahwa desa indramayu terletak di dekat pantai, dan touchscreen pun disentuh diantara ruangan RSHS yang sinyal Edge/HSPA hilang bergantian, “desa Parean Girang, kecamatan  Kadanghaur, Indramayu”.

Dan yeay...
Turun dari bus.. hawa panas menampar, silahkan terima kenyataan bahwa desa KKN anda bukan desa impian seperti di FTV-FTV. Ini pantura, Bung!
Perjuangan dimulai dari hal paling awal, yaitu menggeret koper yang kalau dibawa k bandara pasti udah kena cas tambahan. Terobang ambing dengan rumah yang berjauhan dengan kualitas yang lumayan membingungkan untuk dibedakan, akhirnya kami para kaum kartini-kartini perkasa, memutuskan untuk memilih rumah kedua, yang ternyata menjadi icon dan saksi bisu para rangger GiranG.

Sedikit perkenalan, rumah yang kami tempati cukup lengkap ada, TV, kipas angin, lemari es, kompor gas, dan AC alami dari celah2 dinding. Semua alat elektronik ini tidak bisa dihidupkan dalam waktu bersamaan, apalagi jika ditambah dengan hp boros baterai yang selalu harus di charge, salah kan aplikasi gratis bejibun yang selalu mengupdate diri sendri. Ada pemandangan sungai di depan rumah, dihiasi dengan pohon kelapa, perahu dan pacilingan. Tidak kenal dengan kata pacilingan? itu adalah jamban umum yang bermuara ke sungai. Jangan lupakan dinding rumah yang lumayan terkenal karena selama 2 minggu pertama, dinding selalu diteriakin “Awas Dinding Rapuh!”, dalam versi lebaynya mungkin serpihan-serpihan semen, pasir dan bata yang berjatuhan akibat tertiup angin, tersenggol pakaian, atau sengaja dipukul karena emang lagi freak, bisa dipake buat bikin rumah lagi.

Menyesal? Mengeluh? Sepertinya tidak.. meski butuh waktu untuk beradaptasi dengan nyamuk dan mikroorganisme yang menyebabkan gatel-gatel sehingga tidak ada yang berani tidur diatas kasur dalam kamar dan malah membangun lapak di ruang tengah. Setiap satu jam di hari pertama saya bolak balik dari kamar-sofa dan tidak mendapatkan feel tidur malam itu. Atau dengan bak mandi yang disalahkan sebagai penyebab gatal-gatal salah seorang teman kkn. Masih sangat bersyukur karena saya hanya akan berada disana selama 30 hari, tidak harus tinggal disana sendirian, selama bertahun-tahun tanpa saudara, dan masih menginjak usia remaja seperti pemilik rumah.

Makan malam pertama dipersembahkan oleh produk paling membanggakan indonesia, indomie rebus kari ayam. Memasak menu seserhana itu dengan porsi 19 orang, 1 kompor gas dan panci kecil untuk pertama kalinya cukup menantang ternyata, masih ingat betapa tebelnya endapan dari sisa rebusan mie bercampur dengan serpihan-serpihan kulit telor di dasar panci. Okey itu hari pertama, hari pertama yang heboh habis. Bayangin aja, yang cewe langsung ada yang merasa perlu mandi bareng karena perasaan mereka yang langsung ketakutan. Kedekatan yang terlalu cepat menurut saya, padahal sebelumnya mereka beda fakultas baru ketemu beberapa kali, tapi itu awal yang baik sepertinya. Paginya bangun dengan tangan, kaki dan wajah bengkak-bengkak lebam, bengkak karena digigit nyamuk, lebam karena ditabok teman pas lagi tidur dan bagi yang beruntung ada yang dipeluk, dikirain guling.

Besoknya makan pagi masih ditemani oleh siaran pagi dari 1 dari 3 stasiun tv yang dapat ditanggap oleh receiver disana, suasananya masih terlalu asing,  para cowok makan dengan porsi cewe dan para cewek makan dengan porsi kucing.

Times fly..
Hari-hari dipenuhi dengan bangun pagi yang dikuti dengan antrian kamar mandi dengan berbagai macam tema, beralma-ria menjelajahi kantor desa, posyandu demi posyandu, rumah ke rumah, setelah terkapar beberapa menit menuju tengah hari. Para pejuang perut mengganti seragam keren mereka, yang ---sempat disalah artinya oleh anak-anak disana ketika melihat segerombolan mahasiswa berjas almamater sebagai artis masuk kampung--- dengan baju rela berkorban untuk menjelajahi pasar kampung yang ‘agak’ becek dan penuh dengan rakyat imut-imut seperti tikus, kecoa dan anak-anal kucing. Pasar ini sempat menjadi kebutuhan primer pada minggu-minggu pertama setelah indomaret yang jaraknya bisa ditempuh dengan berguling sebanyak 20x dari pintu rumah kontrakan cowok.

Secara serempak dalam waktu singkat kita sudah mulai mengetahui hal janggal yang tersimpan dibalik masing-masing mahasiswa aneh ini. Ada yang ternyata tidak bisa makan pedas sama sekali, ada yang suka sparing tinju sama dinding yang kekuatannya masih diragukan, ada yang suka sekali menjadikan kucing sebagai model dalam berbagai pose dari pada temannya yang sudah berpeluh-peluh menangani posyandu, ada yang suka beli lama-lama di indomaret menganalisa semua hal selama beberapa dekade dan kemudian keluar dengan sebotol susu, hanya sebotol susu, eh itu ternyata masih satu orang ding, sebut saja namanya bung! Bung! Yang mendapatkan penghargaan ter-freak seParean Girang ini sedang dicalonkan maju untuk pemilihan orang terfreak se ASEAN.

Ada yang pasrah saja menjadi objek foto dari beberapa sudut dengan latar belakang sungai yang ‘sangat indah’ dan berakhir seperti badut ancol yang membuat anak-anak datang untuk berebut foto bareng, nilai plus disini, bukan Cuma bocah yang tertarik, tapi juga nenek-nenek mereka. Ada yang dinobatkan sebagai fotografer yang sangat sering menjepret sana sini tapi setelah filenya dibuka di sebuah laptop, jumlah fotonya kalah oleh jumlah alat elektronik yang bisa digunakan ketika rice cooker dalam posisi ‘cooking’ baiklah ini lebay. Ada yang awalnya saya kira aa-aa bus kkn, dan ternyata teman kkn yang menduduki rangking terdua jarang menghadiri kumpul praKKN, akhirnya berhasil membuka usaha dengan kolaborasi bernama TSM yang kemudian gulung tikar di tengah jalan. Ada yang sering menghilang, bisa karena ketiduran, atau ngebolang gak bilang-bilang, atau karena pulang dan baru kembali ke desa KKN setelah mahasiswanya berganti dan datang dengan membawa sekantong tahu sumedang plus lapis legit.  Ada yang tidak pernah lepas dari gadgetnya yang lebarnya mengalahi remote TV kemana-mana, dan sering tiba-tiba ditemukan tertidur didepan kipas angin saat tidak ada yang tertidur selain dia. Ada yang tertawanya yang bisa lulus seleksi film horror bergenre komedi, dan  sempat dicurigai gak bawa baju ganti buat sebulan karena memakai baju yang sama selama berhari-hari, setelah di inspeksi lebih jauh ternyata itu adalah baju berbeda dengan warna yang sama, tapi bergradasi dari hitam pekat, hitam kopi, hitam sungai, dan hitam dongker. Ada yang tidak bisa menahan dirinya untuk terlalu berekspresi maksimal di depan kamera sehingga setiap hasil foto yang keluar tak jarang mengundang tawa atas kealayannya. Ada yang menyebut risoles dan mie sosis sebagai main dish karena ternyata dia sangat suka cemilan dan selalu bertingkah childish sehingga berada di hierarki paling rendah dalam susunan keluarga yang sudah dibentuk, tragis memang, dipanggil dengan sebutan ‘nak’ ketika dia masuk ke jajaran ’91 oleh seseorang yang kelahiran ’94. Ada yang saking tingginya  sehingga sering nyangkut dipintu,  sangat terkenal logat dengan ‘MaaKaroniiiiii”-nya dan dengan sangat mengejutkan mengenal seseorang dikawasan keraton dan menyebut dirinya sebagai salah satu keturunan keraton yang tidak tertulis dalam silsilah yang dipajang,  karena dia merupakan turunan dari sepupu dari ponakan ke 5 yang menikah dengan ponakan raja yang merupakan anak dari keluarga temannya ibu raja, sorry.. the last fact is fake.

Ada yang kalo ketemu anak-anak paling anti, ngakunya tampang sekuriti hati hellokiti, kalau malem gak berani ke wc sendiri, kalo pagi paling males mandi, , kalo sore udah kayak agen SiAi-i (baca CIA), buka akun twiiter orang tiap hari, tiap dapat info baru langsung ketawa sendiri , kalo malem itung duit kaya kenek damri, (rap mode: on).

Ada yang gadgetholic, selalu harus bawa Hp, Ipod, Tab dan SLR, kemana-mana, penyelamat kedidupan di dunia antah beranda perkkn-an karena ternyata diam-diam dia punya hubungan rahasia dengan masyarakat sana. Sebenernya gak rahasia juga sih, neneknya punya rumah disana, alias disana deket kampung halamannya. Supplier dari panci-panci dapur, magic com, bahkan bahan makanan. Termasuk yang paling inisiatif juga soal tugas-tugas negara.

Termasuk 1 orang yang bisa dibilang lumayan unik ini, anak paling lucu, paling PD, paling didorong-dorong buat maju. Chef selama sebulan, yang selalu punya ide unik. Sebagai humas dia punya kemampuan yang baik untuk berkomunikasi dengan warga sekitar, punya keahlian yang bagus untuk berinteraksi dengan anak-anak disana. Sering diteriakin karena sering tanpa tendeng aling-aling masuk toilet tanpa mengindahkan antrian yang udah sepanjang tol cileunyi-pasteur.

Satu lagi yang suka bikin heboh, dengan suaranya yang unik dan lucu, paling pinter ngebodor, punya banyak pengaruh dikalangan anak-anak yang menciptakan trauma tersendiri. Paling kreatif kalau soal bikin judul ftv, sejak awal kkn sampai akhir dia sudah menobatkan diri sendiri sebagai sutradara dari berpuluh2 judul ftv (judulnya doang), diminggu-minggu terakhir setelah orderan sinetron makin turun, yang diakibatkan karena listrik makin sering mati kalo diidupkan dia mendapatkan waham baru bahwa dia adalah seorang ratu dengan panglima, perdana menteri dan rakyatnya.

Manusia yang satu ini adalah penyelamat dalam bidang akademisi selama kkn, orang yang benar-benar berpikir bagaimana caranya agar nilai kkn kita tetap dalam posisi memuaskan, yaitu A. Dengan segala kedisiplinannya , buku pink selalu terisi, tugas bikin blog, bikin laporan, dan blablabla lainya terlakasana tepat waktu. Di lain kesempatan dia mendapat julukan terkarma, karena selalu saja ada penyakit yang menyerangny selama kkn. Untungnya di minggu terakhir, kutukan karma itu terangkat dari pundaknya dan berpindah ke teman yang lain.

Orang yang mendapatkan karma diakhir kkn, sangat terkenal dengan tomcatnya, membuat petugas medis didaerah sana terbingun-bingung dengan symtomp yang dimunculkan tomcat beracun itu. Hobinya gulung-gulungin kabel tiap mau tidur dan paling susah dibangunin. Meski makanan udah terhidang rapi dilantai, dia yang tidur dilantai yang sama lengkap dengan selimutnya (ingat tempat tidur dan tempat makan bagi kami adalah hal yang sama) tidak akan bangun sampai ada gereombolan cowok yang datang buat makan.

Juga ada yang paling kalem diantara kita, kalem sih tapi kalau udah ngeceracau di twitter heboh juga, sekali-kali nya ngmong selalu dalem, memang pantes dia dinobatkan sebagai presidir TSM yang meski kemudian bangkrut setelah kkn dia masih ngotot untuk mempromosikan nya lewat twitter dan line. Senjata andalannya adalah bulpen dan buku, oh ya dia adalah sekretaris abadi yang diawal pemberitaan kkn sudah membuat skandal dengan bosnya sediri (evil smirk)

Yang terakhir yang paling keibuan dan paling diet, pencinta anak-anak dan diatas kepalanya ada spanduk SENGGOL BACOK dalam artian sebenarnya tapi dengan makna yang lebih halus, heee? Maksudnya, teman yang satu ini punya saraf geli yang terletak terlalu superficial, dipegang dikit langsung geli, jadi dia termasuk untouchable dalam artian yang sebenarnya. Paling jarang makan, dan tidak pernah ikut-an ‘ngebo’ abis sahur, palingan juga ketiduran di sofa luar dan dipergokin anak-anak

Dari semua orng ini, herannya bisa nyambung semua, alhasil kkn ditempat yang penuh tantangan itu bisa dilewatin dengan baik tanpa harus banyak cedera dan pastinya seru. Thanks buat ukhuwahnya, dan maaf untuk galonnya yang bocor ;)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gadis kecil dan mukena

Menjadi seorang muslim itu menyenangkan, tersedia 'rest time' tiap harinya, 5 kali sehari. Sudah ditimming pas dengan puncak derajat boring manusia.
Sore itu, setelah perjalanan yang begitu melelahkan, Sebuah keluarga kecil mendarat dengan sempurna di halaman mushala sederhana di tepi jalan.  Oh ya, mereka melakukan perjalanan di daerah yang tidak mempunyai rest area kayak tol sepanjang banten-cileunyi, tapi sepanjang jalan tersedia mesjid dan mushala yang bisa digunakan untuk melakukan ibadah bagi kaum muslim.
Setelah menyucikan diri dengan berwudhu', menenangkan diri dengan sholat gadis kecil dalam keluarga itu kembali melipat mukena yang ia kenakan,  dan meletakkan nya kembali di atas sajadah tempat semula mukena tersebut.

Tapi ummi menegur gadis kecilnya, kenapa tidak meletakkan mukenanya ke dalam lemari, tempatnya seharusnya. 

Gadis kecil itu berkerut, baginya meletakkan sesuatu kembali pada tempat yang sebelumnya sudah cukup.

"Meletakkan mukena kembali ke tempatnya adalah hal sepele yang mengandung rasa terima kasih setelah menggunakan mukena yang tersedia di mesjid"

Gadis kecil itu tertegun, ternyata prinsipnya bahwa 'meletakkan kembali sesuatu di tempat sebelumnya' masih kalah gaul dari 'meletakkan pada tempatnya'.

Apabila sanggup membalas sebuah kejahatan dengan kebaikan kenapa harus membalasnya dengan kejahatan kembali? Bukankah lebih dianjurkan untuk berbuat lebih baik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ramadhan

Tersebutlah seorang anak kecil yang selalu mengikuti ayahnya berpergian. Setiap hari dia diberikan jatah jajan. Setiap tahunnya terdapat satu bulan dimana sang ayah memberikan kesempatan bagi anaknya untuk membeli apa saja, apapun yang dimintanya diberikan tanpa terkecuali. Tapi sayang setiap tahunnya di bulan itu ayahnya selalu mengajaknya berpergian ke tempat yang jauh. Meski mengetahui kesempatan emas di bulan itu sang anak lebig sering memilih istirahat menghilangkan rasa lelahnya. Dan tanpa terasa sebulan telah berlalu tanpa ia sempat meminta banyak hal... Marhaban ya Ramadhan.. biarkan aku menjamu mu dengan sebaik-baik jamuan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Merantau


Kau bisuak kuliah jan jauah-jauah lo ya, disiko selah di padang, jan pai lo ka Jawa manga jauah bana”,  begitu pesan almarhum kakek yang ya panggil ‘inyiak’ ketika ya berkunjung di akhir pekan saat, pulang massal SMA. Saat itu saya hanya nyengir, dalam hati ingin bertanya ‘kenapa?’ tapi tidak terucapkan. Entah apa alasan inyik berkata demikian,yang pasti lelaki 8o tahunan yang punya 8 anak itu telah melepaskan 5 orang anaknya diperantauan. Hanya 3 orang yang masih bermukim di kampung halaman, salah satunya adalah ummi, ibu saya.

Saat inyik berpesan seperti itu, saya sudah tidak menetap di rumah lagi, sudah 4 tahun sejak diasramakan di salah satu sekolah di Padang menjadi terbiasa dengan merantau. Merantau berarti menemukan hal baru, menemukan tantangan untuk mandiri dan adaptasi dan saya terlanjur suka hal itu. Ditambah lagi dengan sebuah kebiasan senior-senior di SMA memilih melanjutkan pendidikan di pulau Jawa. Dengan mereka yang datang berkunjung memperkenalkan universitas mereka bahkan tempat kosan mereka disana, membuat seakan-akan pulau yang dibatasi oleh selat Sunda dengan pulau tempat sekolah saya berdiri itu tidak asing lagi.

Dan akhirnya meski pesan inyik masih terngiang-ngiang, Ya tetap akhirnya berangkat kesini. Ke tanah sunda. Saat rindu kampung halaman, saat merindukan orang tua saat itulah pesan inyik kembali bergema. Ayah ummi tidak mengizinkan untuk mengucapakan kata rindu sejak SMA. Perjuangan itu memang pengorbanan, jika pengorbanan itu adalah kebersamaan di dunia tidak seberapa dibanding dengan kebersamaan di akhirat. Begitu pesan ummi ketika ya tiba-tiba menjadi cengeng saat jaman SMA. Pesan itu ampuh juga, ketika merasa rindu. Menjadi penguat untuk berjuang mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Mungkin alasan terbesar kenapa disetiap penutup pesan ketika teleponan adalah ‘jan lalai shalat yo,nak’

Namun ketika masih tersedia pilihan hal yang saya inginkan adalah kembali ke tanah itu, tanah tempat saya dibesarkan. Tempat yang mungkin tidak begitu mengingat wajah gadis kecil kurus yang suka lalu lalang seenaknya. Tapi tempat itu masih dengan jelas tersimpan dibenak ya dalam versi lamanya. Dalam versi terbaru, sih beberapa petak sawah yang ya ingat sudah berubah menjadi ruko. Ya kampung kecil itu mulai menggeliat tumbuh.

Tapi setiap melihat perubahan itu, saya miris. Tampaknya mata ini lebih suka dengan sawah dan kebun yang berjejer rapi. Memberikan ruang yang luas bagi anak-anak untuk bermain, memberikan tempat bagi burung-burung untuk singgah sejenak sebelum diusir petani. Di sisi lainya perkembangan yang terjadi juga tidak selamanya buruk. Ekonomi dan kesejahterahan masyarakat dapat meningkat, uang dapat berputar lebih cepat, daerah kecil yang dulunya tidak ada di peta saya ketika SD itu juga mulai bisa berinteraksi lebih banyak dengan dunia luar.

 Mengingat perubahan kecil itu, tiba-tiba saya teringat ibu kota dan beberapa kota (yang hanya sedikit) yang saya singgahi di negeri ini. Saat seorang bertanya, ‘ketika dewasa nanti kau mau tinggal di ibukota?’ tanpa pikir panjang saya menjawab tidak. Teman itu berkerut, kenapa? Padahal di ibukota semuanya serba bisa, access gampang, perputaran uang cepat, dalam pandangannya ibukota terlihat lebih menjanjikan. Dari sudut itu dia benar, tapi aku tidak mau menghabiskan hidupku dijalanan, macet yang tiada ampunnya, populasi yang terlalu padat tidak menyisakan ruang untuk bersantai sejenak. Ketergantungan pada AC, mengingat betapa tidak nyamannya udara yang akan dihirup tanpa penyejuk dan penyaring udara itu. Mengingat betapa ibukota memisahkan kehidupan yang berada yang mampu membeli semua dengan yang bahkan tidak bisa membeli udara ketika mereka sakit.

Sungguh saya tidak ingin waktu merubah kampung kecil saya. Meski untuk mencapai tingkat yang semengerikan itu masih dalam hitungan waktu cahaya, saya bahkan tak ingin ada kedai fastfood yang didirikan disana. Agak sedikit aneh memang mengingat saya dengan mudahnya ikut menjadi salah satu penikmat gerai makanan cepat saji disini. Tapi tiap akhir pekan, melihat segerombolan keluarga, membawa anak-anaknya untuk menikmati makanan disana, terlihat sangat tidak keren. Kenapa mereka gak piknik sekalian aja ke pantai kek, ke taman kek.

-ya gak tau ini mau ngomong kearah mana…-

Intinya, ya ingin kembali kesana, menjadi salah satu orang yang berperan dalam perkembangan disana. Ingin ikut andil dalam prosesnya. Dulu saat pelajaran BAM, ya gak ingat kata-kata persisnya, tapi bunyinya kalau gak salah ‘saumpamo karambia tumbuah miriang’. Seperti pohon kelapa yang tumbuh nya gak lurus, buahnya bukan jatuh di halaman empunya malah berguling-guling di jalanan dan diambil orang lain.
Itu adalah pribahasa untuk anak rantau yang tidak kembali ke kampung. Mereka dilahirkan disana, dan belajar ke negeri orang untuk mendapatkan ilmu. Namun pada akhirnya mereka tetap disana dan tidak memberikan apa-apa di tanah tempat dia dilahirkan. Kalau kata teman-teman disini mereka gak bakalan diam melihat orang padang menguasai tanah sunda. Yah… masuk akal memang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ketika teman sejawat yang kita kenal berada disini. Jaringan, kenalan, rekomendasi institusi pastinya juga lebih mudah disini. Mengingat institusi terkait tentu juga ingin agar orang-orang yang menimba ilmu darinya juga ikut membangun daerahnya..

Well itu pilihan sih. Tak ada salahnya juga… dimanapun  kaki berpijak itu tetap bumi Allah. Fantashiru fil ard. Selama masih berbuat baik, beramal shaleh, selama Allah ridho.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dadiah...? apa itu?

Randomly, berselancar di dunia maya tiba-tiba menemukan kata-kata 'dadiah', di kolom pertama hasil penemuan search engine.
apa itu dadiah? kok familiar sih? http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/05/21/470/155517/Dadiah-Yoghurt-Ala-Minang.
setelah dibaca oh ternyata itu makanan...
ya...ya..ya
saya memang pernah melihat benda seperti itu di pasar tradisional di desa saya, dijajakan beberapa biji.
saking penasarannya, tiap melihat benda itu saya selalu bertanya pada ummi karena selalu lupa. dan jawaban ummi akan sama. 'oh, itu dadiah, fermentasi susu kerbau, ya mau nyoba?' mendengar kata kerbau ya agak ngeri dan langsung menggeleng dan melupakan makanan bernama dadiah itu dengan cepat.

makhluk bernama dadiah itu disimpan dalam tabung bambu yang ditutup plastik, tampilan luarnya sama sekali tidak menarik perhatian ya waktu itu. nama dan asal mulanya pun tidak menarik, sehingga meski penasaran bagaimana rasanya, tidak sedikitpun tertarik untuk mencoba.

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTkMOBx_BOnOjpp4RQTYCj97NhDJ3HL788jgIxX4y8HBeRfJDsXBA
setelah membaca artikel diatas akhirnya rasa penasaran itu muncul lagi dan kali ini dibarengi niat untuk mencoba. apalah artinya lahir di tanah minangkabau kalau pengetahuan kulinernya gak jauh beda dengan orang-orang yang gak lahir di tanah yang sama. masa' tiap pulang maunya makan sate deui, sate deui, martabak mesir lagi, martabak mesir lagi.

sepenuhnya saya sadari masih banyak makanan, budaya, dan karakter minang yang tidak saya jumpai ketika saya masih berkeliaran di tanah minangkabau. mungkin budaya yang emang makin memudar karena perkembangan zaman, atau emang saya yang tidak mau tau. saya baru tau yang namanya randai itu di SMA selama ini hanya tau dari buku BAM tentang randai dan gerakannya, dan masih ada  banyak teman sesuku bangsa yang tidak tau. Ternyata  merasa malu juga, tidak mengenal ke khasan sendiri, tapi ketika budaya lain mengklaim apa yang telah menjadi warisan nenek moyang sebagai milik mereka, barulah mencak-mencak, marah, merasa kecolongan. kalau situasinya begini gak jauh bedalah ya, sama orang yang ninggalin dompetnya ke stasiun trus hilang dan marah-marah sama yang ngambil. wong yang salah siapa? dua-duanya sih, tapi dalam posisi ini yang punya dompet terlihat lebih konyol.

gak mau berada di posisi yang konyol, akhirnya saya menambahkan list keinginan kalo pulang ke rumah --> "makan dadiah", tapi kayaknya pengen yang udah diolah dikit deh..
hehehehe
http://www.google.com/imgres?q=dadiah+minangkabau&um=1&hl=id&biw=1366&bih=624&tbm=isch&tbnid=0yvuIPB3lK9Y0M:&imgrefurl=http://h4nk.blogspot.com/2012/11/makan-dan-minuman-khas-ranah-minang.html&docid=gKfAQCW63mi6NM&imgurl=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVvseCtjb4WZD_pNkTDfAFaLbyVLC2cnP-0b0X5xUHI5t3mEd1GBRhqMkGlQxuQOT4KTfTrlvvo2IH1SlVpF_9CHgcIcAM7UiWKyhAjVga2_A4_oekLAHkWdFm5FaEakuyOuQvs7zGOruO/s640/ampiang-dadiah.jpg&w=640&h=480&ei=xF6lUeyuHMnQrQeLw4CYCg&zoom=1&ved=1t:3588,r:5,s:0,i:94&iact=rc&dur=441&page=1&tbnh=186&tbnw=242&start=0&ndsp=18&tx=78&ty=77

http://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&docid=glg2oQnel7MrlM&tbnid=eLMOls2HcCbKhM:&ved=0CAgQjRwwAA&url=http%3A%2F%2Fwww.padangmedia.com%2F13-Berita%2F79106-Es-Cream-Dadiah.html&ei=3l6lUf-CB4OmrQeNk4DgCw&psig=AFQjCNHiTMmT3V1tmtwLwtCmHCF7JsD_aA&ust=1369878622207106

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dimarahi

Tadi siang dimarahi dosen pembimbing gara2 gak bisa menjawab pertanyaan 'apa itu premis?' berusaha mengingat dan akhirnya tetap gak ingat.
Dilihat dari segi manapun seperti nya saya emang dimarahi sih... tapi anehnya selain rasa takut ada sebuah rasa lain yang gak terlalu saya perhatikan. Ternyata saya SENANG sodara-sodara. Senang dalam artian sebenarnya. Setelah dipikir-pikir ternyata ya emang udah lama banget ngerasa dimarahi. Entah mungkin karena kesalahan ya gak keliatan, atau karena disini orangnya marahnya terlalu lembut jadi ya gak nyadar kalo lagi dimarahi. eh gak ding, kalau namanya marah sih, mau orang jawa atau orang batak yang marah tetep aja marah. Meski derajat kagetnya beda

Marah dalam artian orang yang memarahi selain merasa ingin marah, dia juga merasa kalau yaya perlu dimarahi. Bukan sekedar marah seperti kucing yang keinjek ekornya, kalau kayak gitu mah, gak perlu dimarahi dosen juga ada, tapi perasaan yang muncul paling ya maaf dan merasa bersalah. Tapi entah kenapa ketika dimarahi  dosen tadi perasaan sama kayak dimarahi Uztadzah kalau masih belum bangun jam setengah lima, kayak dimarahi istri kepala sekolah SMA kalau ribut di jam efektif belajar, kayak dimarahi ayah kalau sakit gara-gara telat makan atau telat sholat.

Ternyata marah itu punya bermacam outcome bagi saya, semakin orang itu berniat baik, semakin tajam perasaan yang datang ketika dimarahi.

#ternyata premis memang belum pernah diajarin. pernah diajarin di SRC tapi masih terlalu superficial dan saya belum terlalu ngerti saat itu... huhpt

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS