Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

When universal coverage does not cover universally (part 1)

Katanya, di negaraku ditargetkan agar semua warganya mempunyai asuransi kesehatan. Negara tercintaku yang masih dalam masa tumbuh kembang ini ingin mengikuti langkah negara maju. Negara yang bisa memberikan rasa aman ada warganya saat mereka harus sakit. rasa aman dari biaya rumah sakit dan rasa aman dari diterlantarkan oleh fasilitas kesehatan karena tidak mempunyai jaminan.
Untuk hal itu diperlakukanlah BPJS, badan penyelenggara jaminan sosial, mereka mengadakan program JKN yang merupakan program Jaminan Kesehatan Nasional. Wow, bayangkan mereka menjamin kesehatan secara nasional, yang berarti semua warga negara terdaftar akan dijamin kesehatannya. Sebuah langkah besar bagi negara yang masih berkembang. Tak apa, negara ini sudah resmi berdiri sejak 1945, tidak salah jika kita berusaha mencoba menjadi lebih baik lagi.
Karena JKN merupakan sebuah program asuransi, maka ditetapkanlah iuran perbulan. Disediakan 3 kelas sesuai dengan kemampuan masing-masing. setelah membayar iuran warga negara akan diberikan kartu dengan lambang BPJS dan JKN yang di cetak diatas kertas HVS. Pemerintah memberikan tunjangan kesehatan pada pegawai sipil berupa Askes yang sekarang telah disatukan dengan BPJS, kartu askes lama masih dapat digunakan karena nomor kartunya telah diintegrasikanpada BPJS. Pemerintah juga memberikan jaminan kesehatan bagi yang tak mampu untuk bayar iurannya berupa Jamkesmas, Jamkesda, Jamkespral semua nya digabungkan dalam satu badan penyelenggara yaitu BPJS. BPJS mengeluarkan kartu saktinya berupa KIS alias kartu indonesia sehat bagi yang tak mampu. Harus diingat, untuk mendapatkan KIS ini anda harus terdaftar sebagai warga miskin di kelurahan setempat dan mempunyai surat miskin. Hubungan yang tidak baik dengan ketua lurah dapat mengakibatkan kehilangan akal saat dokter memvonis anda mengidap penyakit yang membutuhkan biaya besar.
Dengan semua kartu sakti itu, masyarakat mengira terjaminlah mereka dalam urusan kesehatan, setiap harus berkunjung ke rumah sakit.
“Maaf Pak, apakah anda mempunyai rujukan dari puskesmas atau dari dokter keluarga yang terdaftar di BPJS anda?” 
Pasien kebingungan ketika ia berobat ke rumah sakit di daerahnya, berharap mendapat pengobatan langsung dari dokter spesialis menggunakan jaminan kesehatan yang mengklaim akan menjamin biaya pengobatannya. Namun apa lagi ini? Surat Rujukan?
Sistem rujukan bertingkat ini sejatinya bukanlah program BPJS, hanya saja ketika sistem ini diberlakukan BPJS juga mulai diperkenalkan, sehingga mereka menjadi terintegrasi satu sama lain. Sejatinya sistem rujukan bertingkat ini berfungsi untuk menguntungkan semua pihak. Sebelumnya rumah sakit tipe A, lebih serupa dengan puskesmas raksasa. Ketika orang dengan batuk pilek biasa ingin diobati oleh dokter penyakit dalam dengan subspesialis mikrobiologi molekuler. Ketika pasien dengan demam dengue berebut ruang rawat dengan pasien penyakit ginjal kronis dengan gejala akut, rumah sakit sebesar itu akan menjadi overload. Saat itu sudah menjadi pemandangan biasanya ketika di lobi rumah sakit dipenuhi pasien yang terbaring diatas bed menunggu bed kosong di bangsal, litterally mereka di rawat inapkan di lobi rumah sakit, tanpa terdaftar sebagai pasien, tidak divisite oleh dokter atau dikontrol kondisinya oleh perawat. Hal seperti itu hanya menjadikan rumah sakit semakin ‘sakit’
Di sisi sebaliknya sistem ini menuntut dokter layanan primer untuk menjadi lebih terampil menangani kasus sesuai dengan kompetensinya dan juga diminta untuk lihai merujuk pasien diluar kompetensinya sesuai dengan spesialiasi yang dituju. Menangani pasien yang diluar kompetensinya berarti tidak ada jaminan biaya dari BPJS, merujuk pasien dengan diagnosis yang harus selesai di tangan dokter umum membuat RS yang menerima tidak akan mendapatkan klain atas pasien yang dirawatnya
“Dok, mulai bulan April ini pasien dengan diagnosis deman dengue tidak mendapat klaim BPJS” kabar buruk dari perawat ruangan. Jika pasien dengan DB tidak dirawat di RS tipe C dimana mereka akan dirawat? di puskesmas yang tidak semuanya mempunyai fasilitas rawat inap? di RS tipe D yang sama sekali tidak ada, atau tidak menerima pasien BPJS karena mereka merupakan RS swasta yang tidak mau dibuat bankrut oleh BPJS. Atau sudahkan BPJS memberikan pelatihan pada warga negara ini untuk melakukan cek trombosit, HB dan hematrokrit  mandiri secara berkala dan melakukan resusitasi sendiri apabila terjadi syok?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tersengat Anemon


Waktu masih bocah dulu, entah pernah baca di Bobo atau di buku ilmu buku ilmu pengetahuan khusus anak-anak yang isinya gambar semua saya tahu bahwa anemon laut itu beracun, hanya ikan badut yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama ikan nemo sejak kartun disney ikan badut yang menjelajah samudra mancari anaknya itu muncul. Nah, berarti sejak belasan tahun lalu (kok berasa tua amat ya, haha) fakta bahwa si anemon itu beracun, saya suah tahu, dan dodolnya ketika ketemu di laut (ceritanya habis snorkling di Karimun Jawa-pamer) pas lagi foto-foto sama rumah nemo, rumahnya aku grusuk sembarangan, pas naik ke permukaan kulit tangan jadi perih dan langsung curiga sama anemon. Ternyata selidik punya selidik teman-teman yang lain juga mengeluhkan hal yang sama perih dan merah pada kuilt mereka, lebih parahnya lagi yang kena kulit paha yang emang lebih sensitif dibanding tangan. Salah sendiri ngapain berenang pake celana pendek, pake gamis noh, muehehehe.

Sebagai mahasiswa kedokteran yang sudah lulus, tapi belum disumpahi jadi dokter, kita berlima mearasa sangat dodol karena tidak bawa obat apa-apa untuk hal-hal seperti ini. Rata-rata hanya membawa paracetamol sama antimo. Daan, dodolnya lagi kita juga gak tau mau ngasih apa kalau disengat anemon, hahaha akhirnya dengan berbekal rasa malu, google dan harapan buat main ke laut lagi saya mencari hal-hal yang berhubungan dengan penangan pertama pada sengatan hewan-hewan laut.
dikapslok ya  biar jelas inti ceritanya apa

PENANGANAN PERTAMA PADA KECELAKAAN LAUT (gk kecelakaan laut juga sih, ini biar keren aja)

TERSENGAT ANEMON
Ini nih yang sudah membuat kulit kita muncul bruntus-bruntus perih mencurigakan, merah atau ungu. Gejalanya bisa cepat atau delayed, juga harus diperhatikan jenis makhluk yang menyengat, karena toksinnya berbeda-beda tiap spesies
tanda-tanda yang sama akan muncul pada tersengat ubur-ubur atau tentakel lainnya, kalau mau nyari secara ilmiah kata kuncinya 'Cnidaria envenomation', kalau medscape bisa liat disini http://emedicine.medscape.com/article/769538-treatment#d9
Reaksi muncul diakibatnya oleh nematokista yang di eksosotosis dari tentakel tersangka.
       Untuk pentalaksaan sementara dapat menggunakan cuka atau asam asetat 4-6% pada daerah yang terkena selama paling tidak 30 detik. Merendam dengan air hangat pada suhu 40-45 C selama 20 menit juga dapat mengurangi gejala akibat C barnesi and Physalia (itu sejenis ubur-ubur) . Tidak disarankan menggunakan urin, ethanol, methylated spirit.
     Kalau ada tentakel yang nempel, gunakan cuka atau cabut dengan forcep. harus diperhatikan apabila tentakelnya masih hidup, karena toksin nya masih akan keluar sampai beberapa jam kedepan.

Apabila yang muncul hanya berupa gejala lokal, yang mana symptomnya biasanya mild, dapat digunakan salep. Bersihkan dahulu daerah yang terkena dengan air laut, oles tipis salep hidrocortisone 2.5%, sampai gejala hilang, apabila setelah 2-3 hari tidak hilang, sebaiknya cari pertolongan medis. Apabila tidak tersedia, dapat meminum MP atau dexa, tapi obat-obat ini tidak untuk dikonsumsi jangka panjang, hanya untuk menghilangkan efek inflamasi. Untuk nyeri dapat menggunakan PCT, atau ibuprofen.

bagi para petugas medis, terutama dokter intership yang mencari lokasi iship dekat pantai agar bisa sekalian liburan, dan dengan sialnya lagi jaga di IGD, hal yang harus anda perhatikan adalah

  •  Tentukan tingkat keparahan, apakah pasien me(merlukan alat bantu kardiovaskular atau tidak
  • Apakah tentakel sudah dilepas
  • terapi apabila terdapat reaksi anafilksis degnan ABC dan efinefrine
  • wound care dan AB profilaksis
  • Baking soda efektif terhadap sengatan sea nettle (Chrysaora quinduecirra)
  • ATS TT
  • antihistamin dan salep corticosteroid untuk keluhan gatal
kalau ketemuya tersengat ubur-ubur jenis C. fleckeri, biasanya ada antivenomnya. isinya konsentrat Ig, indikasinya untuk menghindari efek neurotoksis dan miotoksik
antivenom diberikan sebanyak 3 ampul diencerkan 1:10 dengan NaCl, IV. Untuk cardiac arrest dapat diberikan sebanyak 6 ampul.

Ya ampun, anemon ama ubur-ubur aja, habis 2 halaman

selanjutnya,

2. Bulu Babi/ bulu landak/ sea urchin

Makhluk seperti rambutan busuk ini mempunyai duri sebagai mekanisme pertahanan mekanis dan juga dapat mengeluarkan racun dari sisa duri yang tertinggal. pastikan bulu babi tercabut dari tubuh yang terkena, hati2 apabila hendak melepaskan duri yang tertancap, gunakan sarung tangan atau alat bantu. Menghancurkan duri menjadi partikel kecil dengan memukulnya pada benda keras akan membantu tubuh untuk menyerap duri, untuk mempercepat proses penyembuhan.


  • Untuk pertolongan pertama, dapat diberkan amonia cair, apabila tidak tersedia, dapat digunakan amonia yang terkandung dalam air kencing. Disarankan untuk menggunakan air kencing pasien/korban, karena jijik kalau pake air kencing orang lain.hehe. Cara penggunaannya tinggal disiram, namun tetap disarankan untuk segera melakukan perawatan ke pelayanan kesehatan unutkmencegah infeksi sekunder
  • berikan TT


  • gunakan air hangat untuk meredakan nyeri. Air hangat  ( 114 F atau 45 C, tidak kurang) juga dapat mngurangi efek toksin.
  • apabila terdapat luka, beberapa sumber menyarankan untuk memberikan tekanan untuk menghentikan perdarahan, dapat menggunakan compression bandage
  • dapat menggunakan analgesik topical untuk mengurangi nyeri dan AB topical seperti gentamisin untuk profilaksis


referensi:
http://emedicine.medscape.com/article/769538-treatment#d9
http://emedicine.medscape.com/article/770053-treatment#d10





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rumah Sakit

I used to hate hospital, paling tidak ketika sudah mengenakan toga S.ked, bagi saya rumah sakit masih tidak menyenangkan.
Dulu bocah kecil kurus ini memang lumayan sering sakit, sekali dua kali terpaksa harus menginap di rumah sakit, dengan diagnosis thypoid. Merasakan malam di rumah sakit yang mengerikan, dan makanan rumah sakit yang lebih mengerikan lagi ditengah tubuh yang lemas karena kalah perang melawan kuman salmonella. Selanjutnya, entah kenapa setiap demam tinggi (yang selalu datang ketika malam dan baikan pagi harinya), diikuti dengan gangguan pencernaan, juga batuk pilek ringan saya hanya dibawa ke tempat praktek dokter terdekat dan bed rest di rumah. Sejak itu saya mulai merasa asing dengan suasana rumah sakit. Setiap menjenguk kerabat ke rumah sakit, setiap melihat tulisan 'anak berumur dibawah 7 tahun dilarang masuk', saya merasa rumah sakit bukanlah tempat yang bersahabat untuk manusia , apalagi anak-anak.

(skip)

Tiba2 waktu membawa saya kesini, mempelajari ilmu tentang manusia dan bagaimana caranya untuk memperbaiki kualitas hidup manusia terutama dari sisi kesehatan. Tidak mutlak memang, namun lebih dari 50% kemungkinan masa depan saya akan berada di rumah sakit berinteraksi dengan pesakit dengan jutaan kuman yang bertebaran disana. Dimulai dari sekarang, meski baru berperan sebagai asistennya asisten. Tidak secara langsung berhubungan dengan pasien, namun hampir setengah dari 24 jam jatah bernafas saya dalam sehari dilakukan di rumah sakit (ditambah dengan porsi jaga malam) ada sisi baru rumah sakit yang saya tangkap.

Rumah sakit ternyata bukan hanya tempat para kuman bertebaran (seperti yang saya kira dulu), tapi disana ada harapan. Harapan untuk kesembuhan dari keuarga pasien untuk orang-orang yang mereka cintai yang terbaring lemah di bed rumah sakit.

Disana terlihat besarnya pengorbanan orang tua menunggui anaknya yang sakit, berhari2 bahkan berbulan-bulan melupakan fisik mereka sendiri yang juga lelah.

Disana terlihat bagaimana seorang anak membuktikan baktinya pada orang tua mereka yang renta, terbaring sakit, saat mereka anak-anak yang sudah dewasa itu mempunyai kehidupan sendiri dengan keluarga kecil mereka mereka tetap merawat orang tua dengan rasa sayang dan hormat yang tidak dikurangi dengan semua masalah keuangan, waktu dan anak2 mereka yang masih kecil dan ditinggal dirumah.

Di rumah sakit sering terlihat wajah dengan kesedihan mendalam, wajah2 kehilangan yang tidak rela kehilangan, penyesalan, atau yang berusaha tegar meski dengan air mata di pelupuk mata, wajah2 yang berduka.

Tapi juga ada wajah yang berseri bahagia, memandang penuh kagum menyapa makhluk kecil yang telah mereka nanti selama 9 bulan, seorang laki2 yang terlahir kembali sebagai seorang ayah menyenandungkan azan dengan canggung di samping makhluk kecil yang terdiam bingung di dalam inkubator. Haru.

Ada perjuangan demi antrian peringanan biaya rumah sakit, bersaing antrian dengan pasien lain demi bpjs yang sistemnya masih terlalu muda untuk dikatakan bagus.

Ada kesenjangan status sosial yang membedakan fasilitas dan pelayanan yang didapat. Miris memang membandingkan ward kelas terendah yang seperti pasar dengan ward kelas tertinggi yang seperti kamr hotel berbintang, di bawah satu atap rumah sakit yang sama. Sebuah pr besar bagi sistem dan pelayanan kesehatan Indonesia.

Di rumah sakit terjadi banyak peristiwa besar dalam kehidupan manusia, lahir, melahirkan, dan kematian. Hanya pernikahan yang tidak dilangsungkan disana (kecuali bagi fachri dan maria di buku aac-nya habiburrahman😁).
Hal kecil yang bisa membuat saya bersyukur bisa menyaksikan semua itu. Alhamdulillah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koas anak- Tak Tergantikan#2


“Langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkok, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh tak terbilang. Maka yang manakah harta karun paling berharganya?”
“Wak Yati tidak sedang bicara tentang harta karun seperti yang selama ini dipahami banyak orang. Itu bukan tentang berjuta ton batubara yang terpendam di bawah tanah kami, beribu kilogram emas dan perak, ribuan hektar hutan-hutan sawit, itu juga bukan tentang koin-koin emas keluarga Van Houten yang ditemukan di loteng masjid kampung atau celengan indah naga dan peri-peri milik Nek Kiba”
“Kamilah harta karun paling berharga kampung”
“Anak-anak yang dibesarkan oleh kebijaksanaan alam, dididik langsung oleh keseharnaan kampung. Kamilah generasi berikut yang bukan hanya memastikan apakah hutan-hutan kami, tanah-tanah kami tetap lestari, tapi juga apakah kejujuran, harga diri, perangai yang elok serta kebaikan tetap terpelihara di manapun kami berada” – tere liye dalam serial anak mamak ‘Pukat’

Anak-anak, begitu Wak Yati menghargainya, mengikhlaskan dua orang anaknya dan turut berbahagia dengan anak-anak lain yang selamat dari sandera para penjajah. bukan ini bukan tentang resensi novel atau sejenisnya. Hanya sebuah cacatan kecil mengenai stase koas selama 9 minggu menyaksikan anak-anak keluar dan masuk rumah sakit dengan penyakit yang menawan keceriaan mereka. Ya ini masih cerita tentang koas anak.

Masa kanak-kanak merupakan fase paling menakjubkan dari seorang manusia. Terlebih ketika dalam kandungan bayangkan dalam 9 bulan segumpal darah dalam ukuran mililiter tumbuh, berkembang, membagi dirinya, berpindah dari atas ke bawah dari bawah ke atas, ketempat mereka yang seharusnya dan kemudian lahir dengan panjang ±50 cm. Bayangkan tinggimu bertambah 50 cm dalam 9 bulan. Kemudian lahir bayi lain yang terlalu cepat dari yang seharusnya. Mungkin kau sebut itu prematur, mungkin bagi para dokter itu pre term dan perlu perhatian khusus, tapi baginya itu perjuangan. Udara masih terlalu asing untuk dihirup, paru-paru masih terlalu lemah hanya untuk sekedar kembang kempis, hati yang bekerja keras membuang sisa darah dari ibu yang sudah tidak terpakai lagi. Bayi baru lahir yang terengut dari kenyamanan rahim yang melindunginya selama ini terpaksa untuk menangis namun terlalu lemah sehingga harus diberikan stimulus terlebih dahulu. Mungkin ia akan berhari-hari bahkan berminggu-minggu berada dalam inkubator, tapi entah mengapa setiap melihat perut mereka yang mencekung setiap mereka berusaha bernafas disanalah perjuangan bayi-bayi itu terlihat mengharukan.

Setelah lahir mereka masih punya 3 tahun kesempatan emas yang menakjubkan ‘golden period’. Di sana mereka mulai belajar mengenali wajah ibu mereka mereka, mengetahui bahwa benda berwarna merah itu adalah apel, mengeja kata-kata, tertawa riang saat kedua kaki mereka bisa berdiri diatas tanah. Ratusan ribu memori baru itu terbentuk, tersimpan dalam saraf-saraf otak mereka hingga dewasa. Saat kau melihat anak-anak yang memiliki takdir berbeda. Kesulitan menggunakan kedua kakinya untuk berdiri, kesulitan untuk menggerakkan lidahnya meski hanya untuk memanggil mama, atau tidak dapat mengejar perkembangannya agar setara dengan usianya.

Menyaksikan dengan mata kepala sendiri anak-anak dengan segala kekurangan mereka, tentu membuat kami ‘para koas baru-yang baru saja bertemu dengan kenyataan’ bersyukur berkali-kali dengan kenyataan bahwa kami berdiri di sini, dengan semua fungsi organ yang lengkap, perkembangan yang sesuai dengan usia, dan otak yang meski tidak dapat mengingat semua pelajaran dengan baik dan benar tapi masih berada dalam batas normal alias dbn.

Tidak ada yang bisa memastikan masa depan anak-anak itu akan sama seperti teman-teman sebaya, namun juga tidak ada yang bisa mengatakan mereka tidak seberharga anak-anak yang tumbuh normal di luar sana, mereka tetap sama berharganya. Anak-anak sampai kapan pun akan tetap menjadi harta karun paling berharga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koas anak- TAK TERGANTIKAN #1


Satu hal yang mungkin saat itu hilang dari perhatian para petugas yang sibuk lalu lalang di IGD. Selain pasien yang pastinya pusat perhatian di ruangan itu, para dokter yang sibuk dengan statusnya, para koas yang lalu lalang entah ngapain, para perawat yang bolak-balik ngeinfus, dan petugas lainnya. Ada orang tua pasien (oh ya stase pertama saya di departemen anak, jadi ini ceritanya lagi di IGD anak). Ada beberapa orang tua yang masuk dengan anaknya pada senin pagi, masih ada ketika malamnya saya jaga malam, besoknya ketika lagi di divisi emergensi orang tuanya masih ada disamping anak mereka yang masih dalam kondisi gawat darurat.

Para dokter boleh bergadang, bertanggung jawab untuk tetap terjaga malam itu, memastikan mereka melakukan tugasnya dengan baik sesuai dengan profesi mereka. Para dokter boleh merasa sangat lelah karena tugas mereka menumpuk sangat banyak, boleh jadi mereka kehabisan energi, karena memikirkan diagnosis dan tindakan yang akan dilakukan untuk pasien, boleh jadi mereka stres karena kehidupan pribadi mereka yang terganggu karena hampir 72 jam di rumah sakit. Tapi ada apa dengan orang tua pasien. Mereka mungkin tidak perlu memikirkan apa-apa yang berhubungan dengan teori macam-macam penyakit. Tidak ada yang memaksa mereka untuk tidak tidur. Tapi apakah mereka dapat tertidur meski dipaksa? Meski mereka tertidur akankah mereka tertidur dengan nyenyak? Mereka mengabaikan rasa lelah  dan tetap bertahan disamping tempat tidur anak mereka. Menenangkan anaknya saat ia rewel karena rasa sakitnya dan berharap agar rasa sakit itu dapat dipindahkan pada mereka, agar anaknya tidak lagi merasakan sakit. Saat dokter memperhatikan semua selang dan alat-alat yang menempel pada tubuh pasien, orang tua hanya akan memperhatikan hela nafas anaknya yang berat dan merasakan sakit dibalik dadanya melihat perjuangan anaknya yang menyakitkan.

Lelah memang tapi tak ada yang mengalahkan lelah lahir batin orang tua pasien. Menyaksikan pemandangan seperti itu, tiba-tiba terbayang anak yang sudah sehat, beranjak dewasa dan kemudian memilih untuk tidak mendengar kata-kata orang tuanya, melupakan pengorbanan orang tuanya saat menemani mereka yang sakit di masa lalu. Semoga di masa depan, anak-anak yang terbaring sakit di ranjang IGD hari ini, atau yang berhari-hari terbaring lemas di bangsal rawat inap, tetap mengingat pengorbanan dan kasih sayang ayah ibu mereka, semoga.

#p.s terima kasih ayah, ummi untuk setiap energi ekstra yang dihabiskan ketika saya saya sakit :’)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koas anak-TAK TERGANTIKAN #intro


Sebuah simulasi kecil kehidupan yang kemungkinan besar akan saya lalui dimulai. Istilah bekennya ‘koas’, kadang-kadang pakai embel-embel ‘dek’, kalau pengen terhormat dikit bisa dipanggil dokter muda. Dimulailah perjalanan pertama di dunia klinis setelah 3.5 tahun bergerumul dengan pasien-pasien khayalan yang mempunyai nama serupa dengan diagnosis penyakit, menumpuk handout hasil tugas baca teman setutor (atau tutor orang), akrab dengan flipchart dengan tulisan ala kadarnya, dan mengasah keterampilan menghadapi pasien bohongan yang sudah di skenario, atau paling banter teman sendiri.

Sekarang, semua hapalan yang mungkin sudah lama tak diulang itu harus dibongkar lagi ketika diperlukan. Banyak ilmu klinis baru yang harus dipelajari, dilatih. Bukan lagi dengan pasien-pasien sehat, atau pasien-pasien kertas yang tidak akan rugi apa-apa kalau salah melakukan tindakan. Kehidupan rumah sakit dimulai. Rata-rata masuk jam 7 pulang jam 4, jam normal kantoran. Beberapa departemen punya gaya masing-masing, bisa masuk jam 5 pagi, atau bisa pulang jam 1 siang, atau malah pulang setelah matahari lama tenggelam.

Pernah sekali waktu, saya berada unit gawat darurat selama hampir 36 jam dan dilanjutkan 9 jam besoknya setelah sempat mengistirahatkan tubuh di kosan semalaman. Capek? Ya iyalah, semua koas memang harus merasakan pengalaman 36 jam tertahan di rumah sakit minimal sekali seminggu, meski ada akan ada waktu untuk makan, solat, mandi dan istirahat alakadarnya. Kalau denger cerita residen (dokter yang lagi ngambil program spesialis panggilanya residen),  perjuangannya lebih mati-matian lagi. Secara profesi mereka adalah asisten konsulen (dokter yang udah spesialis), dan koas adalah asisten dari residen, jadi emang koas itu adalah asistennya asisten. Tapi para residen ini yang secara langsung memberi intruksi tindakan pada pasien setelah konsultasi pada konsulennya, dan koas sedia kaki tangan untuk siap-siap asistensi ini-itu sambil curi-curi belajar dari tindakan yang dilakukan residen. Kalau beruntung bisa dapat bimbingan dari residen yang baik hati.

Setelah wara-wiri menangani pasien IGD sambil terus memantau perkembangan pasien, nah saatnya para residen sibuk dengan status-status yang harus ditulis dengan tulisan tangan, berlembar-lembar pula, mengertilah saya selain kenapa tulisan dokter makin lama makin gak jelas. Perjuangan ini yang sebenarnya sudah terlihat gak manusiawi lagi, emang harus dilakukan para dokter residen untuk profesinya. Kita para koas?  Ya mirip-mirip begitu sih, tapi masih lebih manusiawi sepertinya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Coffe for wound care management

"Kopi efektif mengobati luka, murah, simple. Bedanya dengan madu yang juga mempunyai efek penyembuhan yang serupa. Kopi mempunyai efek pewangi" -prof hendro

Kopi cenderung menyerap cairan inflamasi yang muncul pada luka.

Waktu kecil saya ingat cara tradisional yang sering digunakan ibu-ibu ketika jari kaki mereka luka atau cantengan. 
Waktu itu jelas saya tidak mengerti kenapa, tampak luarnya malah menjadi lebih mengerikan, luka yang kadang bernanah malah ditambal dengan kopi yang warnanya hitam pekat. Ternyata hari ini saya mengetahui ternyata kebijaksaan turun temurun yang saya kira hanya sekedar mitos. Kopi mempunyai efek terapeutik yang bagus untuk mempercepat proses inflamasi

Posted via Blogaway

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Al-buruj

https://www.evernote.com/shard/s308/sh/2cbdfdb6-8009-4282-b403-6f77bee91f96/1c4bc4619657bd9035701b20b1069af4


Posted via Blogaway

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

@rangergirang13

It’s not too late to write about us right? Ranger..? ;)
KKNM Unpad. Kuliah Kerja Nyata Unpad.
Gak seperti kebanyakan teman-teman lain yang pertama kali mendengar kata KKN bawaannya langsung males, ngebayangin bakalan di berada di tempat terisolir jauh dari hiruk pikuk kampus dan jatos yang superterkenal itu, saya malah excited buat KKN sejak tahun 2, apalagi setelah mendengar cerita senior-senior. Bayangan(dan harapan) saya buat KKN, --yang katanya punya tema belajar pada masyarakat---, akan seru. Pergi ke kebun memetik sayur dan buah, dan sorenya main ke pantai. Haha, namanya juga harapan.

Dan jreng... saya dan teman2 dengan sangat polosnya saat itu memilih indramayu saat memilih desa pilihan, berbekal google map yang mengatakan bahwa desa indramayu terletak di dekat pantai, dan touchscreen pun disentuh diantara ruangan RSHS yang sinyal Edge/HSPA hilang bergantian, “desa Parean Girang, kecamatan  Kadanghaur, Indramayu”.

Dan yeay...
Turun dari bus.. hawa panas menampar, silahkan terima kenyataan bahwa desa KKN anda bukan desa impian seperti di FTV-FTV. Ini pantura, Bung!
Perjuangan dimulai dari hal paling awal, yaitu menggeret koper yang kalau dibawa k bandara pasti udah kena cas tambahan. Terobang ambing dengan rumah yang berjauhan dengan kualitas yang lumayan membingungkan untuk dibedakan, akhirnya kami para kaum kartini-kartini perkasa, memutuskan untuk memilih rumah kedua, yang ternyata menjadi icon dan saksi bisu para rangger GiranG.

Sedikit perkenalan, rumah yang kami tempati cukup lengkap ada, TV, kipas angin, lemari es, kompor gas, dan AC alami dari celah2 dinding. Semua alat elektronik ini tidak bisa dihidupkan dalam waktu bersamaan, apalagi jika ditambah dengan hp boros baterai yang selalu harus di charge, salah kan aplikasi gratis bejibun yang selalu mengupdate diri sendri. Ada pemandangan sungai di depan rumah, dihiasi dengan pohon kelapa, perahu dan pacilingan. Tidak kenal dengan kata pacilingan? itu adalah jamban umum yang bermuara ke sungai. Jangan lupakan dinding rumah yang lumayan terkenal karena selama 2 minggu pertama, dinding selalu diteriakin “Awas Dinding Rapuh!”, dalam versi lebaynya mungkin serpihan-serpihan semen, pasir dan bata yang berjatuhan akibat tertiup angin, tersenggol pakaian, atau sengaja dipukul karena emang lagi freak, bisa dipake buat bikin rumah lagi.

Menyesal? Mengeluh? Sepertinya tidak.. meski butuh waktu untuk beradaptasi dengan nyamuk dan mikroorganisme yang menyebabkan gatel-gatel sehingga tidak ada yang berani tidur diatas kasur dalam kamar dan malah membangun lapak di ruang tengah. Setiap satu jam di hari pertama saya bolak balik dari kamar-sofa dan tidak mendapatkan feel tidur malam itu. Atau dengan bak mandi yang disalahkan sebagai penyebab gatal-gatal salah seorang teman kkn. Masih sangat bersyukur karena saya hanya akan berada disana selama 30 hari, tidak harus tinggal disana sendirian, selama bertahun-tahun tanpa saudara, dan masih menginjak usia remaja seperti pemilik rumah.

Makan malam pertama dipersembahkan oleh produk paling membanggakan indonesia, indomie rebus kari ayam. Memasak menu seserhana itu dengan porsi 19 orang, 1 kompor gas dan panci kecil untuk pertama kalinya cukup menantang ternyata, masih ingat betapa tebelnya endapan dari sisa rebusan mie bercampur dengan serpihan-serpihan kulit telor di dasar panci. Okey itu hari pertama, hari pertama yang heboh habis. Bayangin aja, yang cewe langsung ada yang merasa perlu mandi bareng karena perasaan mereka yang langsung ketakutan. Kedekatan yang terlalu cepat menurut saya, padahal sebelumnya mereka beda fakultas baru ketemu beberapa kali, tapi itu awal yang baik sepertinya. Paginya bangun dengan tangan, kaki dan wajah bengkak-bengkak lebam, bengkak karena digigit nyamuk, lebam karena ditabok teman pas lagi tidur dan bagi yang beruntung ada yang dipeluk, dikirain guling.

Besoknya makan pagi masih ditemani oleh siaran pagi dari 1 dari 3 stasiun tv yang dapat ditanggap oleh receiver disana, suasananya masih terlalu asing,  para cowok makan dengan porsi cewe dan para cewek makan dengan porsi kucing.

Times fly..
Hari-hari dipenuhi dengan bangun pagi yang dikuti dengan antrian kamar mandi dengan berbagai macam tema, beralma-ria menjelajahi kantor desa, posyandu demi posyandu, rumah ke rumah, setelah terkapar beberapa menit menuju tengah hari. Para pejuang perut mengganti seragam keren mereka, yang ---sempat disalah artinya oleh anak-anak disana ketika melihat segerombolan mahasiswa berjas almamater sebagai artis masuk kampung--- dengan baju rela berkorban untuk menjelajahi pasar kampung yang ‘agak’ becek dan penuh dengan rakyat imut-imut seperti tikus, kecoa dan anak-anal kucing. Pasar ini sempat menjadi kebutuhan primer pada minggu-minggu pertama setelah indomaret yang jaraknya bisa ditempuh dengan berguling sebanyak 20x dari pintu rumah kontrakan cowok.

Secara serempak dalam waktu singkat kita sudah mulai mengetahui hal janggal yang tersimpan dibalik masing-masing mahasiswa aneh ini. Ada yang ternyata tidak bisa makan pedas sama sekali, ada yang suka sparing tinju sama dinding yang kekuatannya masih diragukan, ada yang suka sekali menjadikan kucing sebagai model dalam berbagai pose dari pada temannya yang sudah berpeluh-peluh menangani posyandu, ada yang suka beli lama-lama di indomaret menganalisa semua hal selama beberapa dekade dan kemudian keluar dengan sebotol susu, hanya sebotol susu, eh itu ternyata masih satu orang ding, sebut saja namanya bung! Bung! Yang mendapatkan penghargaan ter-freak seParean Girang ini sedang dicalonkan maju untuk pemilihan orang terfreak se ASEAN.

Ada yang pasrah saja menjadi objek foto dari beberapa sudut dengan latar belakang sungai yang ‘sangat indah’ dan berakhir seperti badut ancol yang membuat anak-anak datang untuk berebut foto bareng, nilai plus disini, bukan Cuma bocah yang tertarik, tapi juga nenek-nenek mereka. Ada yang dinobatkan sebagai fotografer yang sangat sering menjepret sana sini tapi setelah filenya dibuka di sebuah laptop, jumlah fotonya kalah oleh jumlah alat elektronik yang bisa digunakan ketika rice cooker dalam posisi ‘cooking’ baiklah ini lebay. Ada yang awalnya saya kira aa-aa bus kkn, dan ternyata teman kkn yang menduduki rangking terdua jarang menghadiri kumpul praKKN, akhirnya berhasil membuka usaha dengan kolaborasi bernama TSM yang kemudian gulung tikar di tengah jalan. Ada yang sering menghilang, bisa karena ketiduran, atau ngebolang gak bilang-bilang, atau karena pulang dan baru kembali ke desa KKN setelah mahasiswanya berganti dan datang dengan membawa sekantong tahu sumedang plus lapis legit.  Ada yang tidak pernah lepas dari gadgetnya yang lebarnya mengalahi remote TV kemana-mana, dan sering tiba-tiba ditemukan tertidur didepan kipas angin saat tidak ada yang tertidur selain dia. Ada yang tertawanya yang bisa lulus seleksi film horror bergenre komedi, dan  sempat dicurigai gak bawa baju ganti buat sebulan karena memakai baju yang sama selama berhari-hari, setelah di inspeksi lebih jauh ternyata itu adalah baju berbeda dengan warna yang sama, tapi bergradasi dari hitam pekat, hitam kopi, hitam sungai, dan hitam dongker. Ada yang tidak bisa menahan dirinya untuk terlalu berekspresi maksimal di depan kamera sehingga setiap hasil foto yang keluar tak jarang mengundang tawa atas kealayannya. Ada yang menyebut risoles dan mie sosis sebagai main dish karena ternyata dia sangat suka cemilan dan selalu bertingkah childish sehingga berada di hierarki paling rendah dalam susunan keluarga yang sudah dibentuk, tragis memang, dipanggil dengan sebutan ‘nak’ ketika dia masuk ke jajaran ’91 oleh seseorang yang kelahiran ’94. Ada yang saking tingginya  sehingga sering nyangkut dipintu,  sangat terkenal logat dengan ‘MaaKaroniiiiii”-nya dan dengan sangat mengejutkan mengenal seseorang dikawasan keraton dan menyebut dirinya sebagai salah satu keturunan keraton yang tidak tertulis dalam silsilah yang dipajang,  karena dia merupakan turunan dari sepupu dari ponakan ke 5 yang menikah dengan ponakan raja yang merupakan anak dari keluarga temannya ibu raja, sorry.. the last fact is fake.

Ada yang kalo ketemu anak-anak paling anti, ngakunya tampang sekuriti hati hellokiti, kalau malem gak berani ke wc sendiri, kalo pagi paling males mandi, , kalo sore udah kayak agen SiAi-i (baca CIA), buka akun twiiter orang tiap hari, tiap dapat info baru langsung ketawa sendiri , kalo malem itung duit kaya kenek damri, (rap mode: on).

Ada yang gadgetholic, selalu harus bawa Hp, Ipod, Tab dan SLR, kemana-mana, penyelamat kedidupan di dunia antah beranda perkkn-an karena ternyata diam-diam dia punya hubungan rahasia dengan masyarakat sana. Sebenernya gak rahasia juga sih, neneknya punya rumah disana, alias disana deket kampung halamannya. Supplier dari panci-panci dapur, magic com, bahkan bahan makanan. Termasuk yang paling inisiatif juga soal tugas-tugas negara.

Termasuk 1 orang yang bisa dibilang lumayan unik ini, anak paling lucu, paling PD, paling didorong-dorong buat maju. Chef selama sebulan, yang selalu punya ide unik. Sebagai humas dia punya kemampuan yang baik untuk berkomunikasi dengan warga sekitar, punya keahlian yang bagus untuk berinteraksi dengan anak-anak disana. Sering diteriakin karena sering tanpa tendeng aling-aling masuk toilet tanpa mengindahkan antrian yang udah sepanjang tol cileunyi-pasteur.

Satu lagi yang suka bikin heboh, dengan suaranya yang unik dan lucu, paling pinter ngebodor, punya banyak pengaruh dikalangan anak-anak yang menciptakan trauma tersendiri. Paling kreatif kalau soal bikin judul ftv, sejak awal kkn sampai akhir dia sudah menobatkan diri sendiri sebagai sutradara dari berpuluh2 judul ftv (judulnya doang), diminggu-minggu terakhir setelah orderan sinetron makin turun, yang diakibatkan karena listrik makin sering mati kalo diidupkan dia mendapatkan waham baru bahwa dia adalah seorang ratu dengan panglima, perdana menteri dan rakyatnya.

Manusia yang satu ini adalah penyelamat dalam bidang akademisi selama kkn, orang yang benar-benar berpikir bagaimana caranya agar nilai kkn kita tetap dalam posisi memuaskan, yaitu A. Dengan segala kedisiplinannya , buku pink selalu terisi, tugas bikin blog, bikin laporan, dan blablabla lainya terlakasana tepat waktu. Di lain kesempatan dia mendapat julukan terkarma, karena selalu saja ada penyakit yang menyerangny selama kkn. Untungnya di minggu terakhir, kutukan karma itu terangkat dari pundaknya dan berpindah ke teman yang lain.

Orang yang mendapatkan karma diakhir kkn, sangat terkenal dengan tomcatnya, membuat petugas medis didaerah sana terbingun-bingung dengan symtomp yang dimunculkan tomcat beracun itu. Hobinya gulung-gulungin kabel tiap mau tidur dan paling susah dibangunin. Meski makanan udah terhidang rapi dilantai, dia yang tidur dilantai yang sama lengkap dengan selimutnya (ingat tempat tidur dan tempat makan bagi kami adalah hal yang sama) tidak akan bangun sampai ada gereombolan cowok yang datang buat makan.

Juga ada yang paling kalem diantara kita, kalem sih tapi kalau udah ngeceracau di twitter heboh juga, sekali-kali nya ngmong selalu dalem, memang pantes dia dinobatkan sebagai presidir TSM yang meski kemudian bangkrut setelah kkn dia masih ngotot untuk mempromosikan nya lewat twitter dan line. Senjata andalannya adalah bulpen dan buku, oh ya dia adalah sekretaris abadi yang diawal pemberitaan kkn sudah membuat skandal dengan bosnya sediri (evil smirk)

Yang terakhir yang paling keibuan dan paling diet, pencinta anak-anak dan diatas kepalanya ada spanduk SENGGOL BACOK dalam artian sebenarnya tapi dengan makna yang lebih halus, heee? Maksudnya, teman yang satu ini punya saraf geli yang terletak terlalu superficial, dipegang dikit langsung geli, jadi dia termasuk untouchable dalam artian yang sebenarnya. Paling jarang makan, dan tidak pernah ikut-an ‘ngebo’ abis sahur, palingan juga ketiduran di sofa luar dan dipergokin anak-anak

Dari semua orng ini, herannya bisa nyambung semua, alhasil kkn ditempat yang penuh tantangan itu bisa dilewatin dengan baik tanpa harus banyak cedera dan pastinya seru. Thanks buat ukhuwahnya, dan maaf untuk galonnya yang bocor ;)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gadis kecil dan mukena

Menjadi seorang muslim itu menyenangkan, tersedia 'rest time' tiap harinya, 5 kali sehari. Sudah ditimming pas dengan puncak derajat boring manusia.
Sore itu, setelah perjalanan yang begitu melelahkan, Sebuah keluarga kecil mendarat dengan sempurna di halaman mushala sederhana di tepi jalan.  Oh ya, mereka melakukan perjalanan di daerah yang tidak mempunyai rest area kayak tol sepanjang banten-cileunyi, tapi sepanjang jalan tersedia mesjid dan mushala yang bisa digunakan untuk melakukan ibadah bagi kaum muslim.
Setelah menyucikan diri dengan berwudhu', menenangkan diri dengan sholat gadis kecil dalam keluarga itu kembali melipat mukena yang ia kenakan,  dan meletakkan nya kembali di atas sajadah tempat semula mukena tersebut.

Tapi ummi menegur gadis kecilnya, kenapa tidak meletakkan mukenanya ke dalam lemari, tempatnya seharusnya. 

Gadis kecil itu berkerut, baginya meletakkan sesuatu kembali pada tempat yang sebelumnya sudah cukup.

"Meletakkan mukena kembali ke tempatnya adalah hal sepele yang mengandung rasa terima kasih setelah menggunakan mukena yang tersedia di mesjid"

Gadis kecil itu tertegun, ternyata prinsipnya bahwa 'meletakkan kembali sesuatu di tempat sebelumnya' masih kalah gaul dari 'meletakkan pada tempatnya'.

Apabila sanggup membalas sebuah kejahatan dengan kebaikan kenapa harus membalasnya dengan kejahatan kembali? Bukankah lebih dianjurkan untuk berbuat lebih baik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ramadhan

Tersebutlah seorang anak kecil yang selalu mengikuti ayahnya berpergian. Setiap hari dia diberikan jatah jajan. Setiap tahunnya terdapat satu bulan dimana sang ayah memberikan kesempatan bagi anaknya untuk membeli apa saja, apapun yang dimintanya diberikan tanpa terkecuali. Tapi sayang setiap tahunnya di bulan itu ayahnya selalu mengajaknya berpergian ke tempat yang jauh. Meski mengetahui kesempatan emas di bulan itu sang anak lebig sering memilih istirahat menghilangkan rasa lelahnya. Dan tanpa terasa sebulan telah berlalu tanpa ia sempat meminta banyak hal... Marhaban ya Ramadhan.. biarkan aku menjamu mu dengan sebaik-baik jamuan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Merantau


Kau bisuak kuliah jan jauah-jauah lo ya, disiko selah di padang, jan pai lo ka Jawa manga jauah bana”,  begitu pesan almarhum kakek yang ya panggil ‘inyiak’ ketika ya berkunjung di akhir pekan saat, pulang massal SMA. Saat itu saya hanya nyengir, dalam hati ingin bertanya ‘kenapa?’ tapi tidak terucapkan. Entah apa alasan inyik berkata demikian,yang pasti lelaki 8o tahunan yang punya 8 anak itu telah melepaskan 5 orang anaknya diperantauan. Hanya 3 orang yang masih bermukim di kampung halaman, salah satunya adalah ummi, ibu saya.

Saat inyik berpesan seperti itu, saya sudah tidak menetap di rumah lagi, sudah 4 tahun sejak diasramakan di salah satu sekolah di Padang menjadi terbiasa dengan merantau. Merantau berarti menemukan hal baru, menemukan tantangan untuk mandiri dan adaptasi dan saya terlanjur suka hal itu. Ditambah lagi dengan sebuah kebiasan senior-senior di SMA memilih melanjutkan pendidikan di pulau Jawa. Dengan mereka yang datang berkunjung memperkenalkan universitas mereka bahkan tempat kosan mereka disana, membuat seakan-akan pulau yang dibatasi oleh selat Sunda dengan pulau tempat sekolah saya berdiri itu tidak asing lagi.

Dan akhirnya meski pesan inyik masih terngiang-ngiang, Ya tetap akhirnya berangkat kesini. Ke tanah sunda. Saat rindu kampung halaman, saat merindukan orang tua saat itulah pesan inyik kembali bergema. Ayah ummi tidak mengizinkan untuk mengucapakan kata rindu sejak SMA. Perjuangan itu memang pengorbanan, jika pengorbanan itu adalah kebersamaan di dunia tidak seberapa dibanding dengan kebersamaan di akhirat. Begitu pesan ummi ketika ya tiba-tiba menjadi cengeng saat jaman SMA. Pesan itu ampuh juga, ketika merasa rindu. Menjadi penguat untuk berjuang mendapatkan tempat terbaik di akhirat. Mungkin alasan terbesar kenapa disetiap penutup pesan ketika teleponan adalah ‘jan lalai shalat yo,nak’

Namun ketika masih tersedia pilihan hal yang saya inginkan adalah kembali ke tanah itu, tanah tempat saya dibesarkan. Tempat yang mungkin tidak begitu mengingat wajah gadis kecil kurus yang suka lalu lalang seenaknya. Tapi tempat itu masih dengan jelas tersimpan dibenak ya dalam versi lamanya. Dalam versi terbaru, sih beberapa petak sawah yang ya ingat sudah berubah menjadi ruko. Ya kampung kecil itu mulai menggeliat tumbuh.

Tapi setiap melihat perubahan itu, saya miris. Tampaknya mata ini lebih suka dengan sawah dan kebun yang berjejer rapi. Memberikan ruang yang luas bagi anak-anak untuk bermain, memberikan tempat bagi burung-burung untuk singgah sejenak sebelum diusir petani. Di sisi lainya perkembangan yang terjadi juga tidak selamanya buruk. Ekonomi dan kesejahterahan masyarakat dapat meningkat, uang dapat berputar lebih cepat, daerah kecil yang dulunya tidak ada di peta saya ketika SD itu juga mulai bisa berinteraksi lebih banyak dengan dunia luar.

 Mengingat perubahan kecil itu, tiba-tiba saya teringat ibu kota dan beberapa kota (yang hanya sedikit) yang saya singgahi di negeri ini. Saat seorang bertanya, ‘ketika dewasa nanti kau mau tinggal di ibukota?’ tanpa pikir panjang saya menjawab tidak. Teman itu berkerut, kenapa? Padahal di ibukota semuanya serba bisa, access gampang, perputaran uang cepat, dalam pandangannya ibukota terlihat lebih menjanjikan. Dari sudut itu dia benar, tapi aku tidak mau menghabiskan hidupku dijalanan, macet yang tiada ampunnya, populasi yang terlalu padat tidak menyisakan ruang untuk bersantai sejenak. Ketergantungan pada AC, mengingat betapa tidak nyamannya udara yang akan dihirup tanpa penyejuk dan penyaring udara itu. Mengingat betapa ibukota memisahkan kehidupan yang berada yang mampu membeli semua dengan yang bahkan tidak bisa membeli udara ketika mereka sakit.

Sungguh saya tidak ingin waktu merubah kampung kecil saya. Meski untuk mencapai tingkat yang semengerikan itu masih dalam hitungan waktu cahaya, saya bahkan tak ingin ada kedai fastfood yang didirikan disana. Agak sedikit aneh memang mengingat saya dengan mudahnya ikut menjadi salah satu penikmat gerai makanan cepat saji disini. Tapi tiap akhir pekan, melihat segerombolan keluarga, membawa anak-anaknya untuk menikmati makanan disana, terlihat sangat tidak keren. Kenapa mereka gak piknik sekalian aja ke pantai kek, ke taman kek.

-ya gak tau ini mau ngomong kearah mana…-

Intinya, ya ingin kembali kesana, menjadi salah satu orang yang berperan dalam perkembangan disana. Ingin ikut andil dalam prosesnya. Dulu saat pelajaran BAM, ya gak ingat kata-kata persisnya, tapi bunyinya kalau gak salah ‘saumpamo karambia tumbuah miriang’. Seperti pohon kelapa yang tumbuh nya gak lurus, buahnya bukan jatuh di halaman empunya malah berguling-guling di jalanan dan diambil orang lain.
Itu adalah pribahasa untuk anak rantau yang tidak kembali ke kampung. Mereka dilahirkan disana, dan belajar ke negeri orang untuk mendapatkan ilmu. Namun pada akhirnya mereka tetap disana dan tidak memberikan apa-apa di tanah tempat dia dilahirkan. Kalau kata teman-teman disini mereka gak bakalan diam melihat orang padang menguasai tanah sunda. Yah… masuk akal memang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ketika teman sejawat yang kita kenal berada disini. Jaringan, kenalan, rekomendasi institusi pastinya juga lebih mudah disini. Mengingat institusi terkait tentu juga ingin agar orang-orang yang menimba ilmu darinya juga ikut membangun daerahnya..

Well itu pilihan sih. Tak ada salahnya juga… dimanapun  kaki berpijak itu tetap bumi Allah. Fantashiru fil ard. Selama masih berbuat baik, beramal shaleh, selama Allah ridho.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dadiah...? apa itu?

Randomly, berselancar di dunia maya tiba-tiba menemukan kata-kata 'dadiah', di kolom pertama hasil penemuan search engine.
apa itu dadiah? kok familiar sih? http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/05/21/470/155517/Dadiah-Yoghurt-Ala-Minang.
setelah dibaca oh ternyata itu makanan...
ya...ya..ya
saya memang pernah melihat benda seperti itu di pasar tradisional di desa saya, dijajakan beberapa biji.
saking penasarannya, tiap melihat benda itu saya selalu bertanya pada ummi karena selalu lupa. dan jawaban ummi akan sama. 'oh, itu dadiah, fermentasi susu kerbau, ya mau nyoba?' mendengar kata kerbau ya agak ngeri dan langsung menggeleng dan melupakan makanan bernama dadiah itu dengan cepat.

makhluk bernama dadiah itu disimpan dalam tabung bambu yang ditutup plastik, tampilan luarnya sama sekali tidak menarik perhatian ya waktu itu. nama dan asal mulanya pun tidak menarik, sehingga meski penasaran bagaimana rasanya, tidak sedikitpun tertarik untuk mencoba.

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTkMOBx_BOnOjpp4RQTYCj97NhDJ3HL788jgIxX4y8HBeRfJDsXBA
setelah membaca artikel diatas akhirnya rasa penasaran itu muncul lagi dan kali ini dibarengi niat untuk mencoba. apalah artinya lahir di tanah minangkabau kalau pengetahuan kulinernya gak jauh beda dengan orang-orang yang gak lahir di tanah yang sama. masa' tiap pulang maunya makan sate deui, sate deui, martabak mesir lagi, martabak mesir lagi.

sepenuhnya saya sadari masih banyak makanan, budaya, dan karakter minang yang tidak saya jumpai ketika saya masih berkeliaran di tanah minangkabau. mungkin budaya yang emang makin memudar karena perkembangan zaman, atau emang saya yang tidak mau tau. saya baru tau yang namanya randai itu di SMA selama ini hanya tau dari buku BAM tentang randai dan gerakannya, dan masih ada  banyak teman sesuku bangsa yang tidak tau. Ternyata  merasa malu juga, tidak mengenal ke khasan sendiri, tapi ketika budaya lain mengklaim apa yang telah menjadi warisan nenek moyang sebagai milik mereka, barulah mencak-mencak, marah, merasa kecolongan. kalau situasinya begini gak jauh bedalah ya, sama orang yang ninggalin dompetnya ke stasiun trus hilang dan marah-marah sama yang ngambil. wong yang salah siapa? dua-duanya sih, tapi dalam posisi ini yang punya dompet terlihat lebih konyol.

gak mau berada di posisi yang konyol, akhirnya saya menambahkan list keinginan kalo pulang ke rumah --> "makan dadiah", tapi kayaknya pengen yang udah diolah dikit deh..
hehehehe
http://www.google.com/imgres?q=dadiah+minangkabau&um=1&hl=id&biw=1366&bih=624&tbm=isch&tbnid=0yvuIPB3lK9Y0M:&imgrefurl=http://h4nk.blogspot.com/2012/11/makan-dan-minuman-khas-ranah-minang.html&docid=gKfAQCW63mi6NM&imgurl=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVvseCtjb4WZD_pNkTDfAFaLbyVLC2cnP-0b0X5xUHI5t3mEd1GBRhqMkGlQxuQOT4KTfTrlvvo2IH1SlVpF_9CHgcIcAM7UiWKyhAjVga2_A4_oekLAHkWdFm5FaEakuyOuQvs7zGOruO/s640/ampiang-dadiah.jpg&w=640&h=480&ei=xF6lUeyuHMnQrQeLw4CYCg&zoom=1&ved=1t:3588,r:5,s:0,i:94&iact=rc&dur=441&page=1&tbnh=186&tbnw=242&start=0&ndsp=18&tx=78&ty=77

http://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&docid=glg2oQnel7MrlM&tbnid=eLMOls2HcCbKhM:&ved=0CAgQjRwwAA&url=http%3A%2F%2Fwww.padangmedia.com%2F13-Berita%2F79106-Es-Cream-Dadiah.html&ei=3l6lUf-CB4OmrQeNk4DgCw&psig=AFQjCNHiTMmT3V1tmtwLwtCmHCF7JsD_aA&ust=1369878622207106

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dimarahi

Tadi siang dimarahi dosen pembimbing gara2 gak bisa menjawab pertanyaan 'apa itu premis?' berusaha mengingat dan akhirnya tetap gak ingat.
Dilihat dari segi manapun seperti nya saya emang dimarahi sih... tapi anehnya selain rasa takut ada sebuah rasa lain yang gak terlalu saya perhatikan. Ternyata saya SENANG sodara-sodara. Senang dalam artian sebenarnya. Setelah dipikir-pikir ternyata ya emang udah lama banget ngerasa dimarahi. Entah mungkin karena kesalahan ya gak keliatan, atau karena disini orangnya marahnya terlalu lembut jadi ya gak nyadar kalo lagi dimarahi. eh gak ding, kalau namanya marah sih, mau orang jawa atau orang batak yang marah tetep aja marah. Meski derajat kagetnya beda

Marah dalam artian orang yang memarahi selain merasa ingin marah, dia juga merasa kalau yaya perlu dimarahi. Bukan sekedar marah seperti kucing yang keinjek ekornya, kalau kayak gitu mah, gak perlu dimarahi dosen juga ada, tapi perasaan yang muncul paling ya maaf dan merasa bersalah. Tapi entah kenapa ketika dimarahi  dosen tadi perasaan sama kayak dimarahi Uztadzah kalau masih belum bangun jam setengah lima, kayak dimarahi istri kepala sekolah SMA kalau ribut di jam efektif belajar, kayak dimarahi ayah kalau sakit gara-gara telat makan atau telat sholat.

Ternyata marah itu punya bermacam outcome bagi saya, semakin orang itu berniat baik, semakin tajam perasaan yang datang ketika dimarahi.

#ternyata premis memang belum pernah diajarin. pernah diajarin di SRC tapi masih terlalu superficial dan saya belum terlalu ngerti saat itu... huhpt

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

srikandi


_bongkar-bongkar slide buat uts malah nemu ini_

Abis browsing bahan BHP tentang malnutrisi terhadap elderly. Sesuatu yang sudah lama nempel di pikiran ya namun belum sempat tertulis karena ada hal lain yang sangat urgent harus ditulis yang tak lain dan bukan adalah skr**si. Tapi tugas BHP ini bener2 bikin flashback itu “pop out” dengan kuat.
Tak lain tak bukan tentang salah satu wanita perkasa yang ya kenal, seorang srikandi dan srikandi itu adalah wanita tua yang berumur lebih dari 77 tahun. Ya… Srikandi itu Nenek.
Nenek tabiang begitu beberapa kerabat memanggil beliau, tabiang dalam bahasa Minang berarti tebing, rumah nenek memang terletak agak tinggi, ya seperti di tepi tebing gitu deh. Nenek, dalam ingatan ya adalah seseorang yang ummi panggi l dengan panggilan ‘amak’. Dalam memori masa kecil, nenek adalah tempat paling senang dikunjungi untuk sekadar meminta cemilan atau es. Nenek sejak dulu berjualan di depan rumahnya yang terletak berdampingan dengan SMP. Nenek menjual berbagai macam makanan snack, alat tulis, dan es tentunya hal yang sangat disenangi anak-anak. Ya suka sekali minta es yang dibikin nenek, dan kemudian dimakan diam2 di pekarangan SMP agar tidak ketahuan ummi, dan akhirnya tetap ketahuan karena Wildan adik ya, malamnya langsung flu dan dengan polosnya dia menjawab kalau tadi diajak kakaknya makan es, padahal udah diwanta wanti makan es kali ini adalah rahasia kita berdua dan nenek.
Nenek sangat suka menggelitik cucu2nya dengan menciumi bertubi2 di leher. Itu bukan main gelinya saudara2, sampai sekarang ya merinding mengingat rasa geli itu, dan terekam jelas di benak ya bagaimana senangnya nenek melihat kami kegelian, dan tangan beliau yang sudah keriput sejak saya kecil akan mengelus2 rambut cucunya yang takut akan diciumi lagi. Dengan tangannya yang keriput itu nenek juga suka bercanda mengatakan bahwa ukuran wajah ya saat itu (hingga saat ini) hanya selebar telapak tangan nenek.
Nenek di usianya yang udah nenek2 ketika ya SD tidak pernah lupa hari ulang tahun ya.  setiap hari ulang tahun ya yang entah kenapa tiap tahunnya selalu ketika libur kenaikan kelas, nenek selalu datang  dengan pakaian khasnya menjinjing kresek hitam besar berisi hadiah ulang tahun yang berasal dari dagangannya. Ada buku dan alat tulis lengkap yang jumlahnya selalu bersisa setengah setelah dipakai selama setahun, ada berbungkus2 snack, plus ciuman yang menggelitik itu.
Dimana letak srikandinya? Nenek memang seorang srikandi di mata Yaya.
Berkunjung ke rumah nenek, berarti menambah jumlah neurotransmitter yang akan menyimpan sebentuk sejarah yang dibagi kan oleh nenek dengan suara nenek2nya. Kesempatan libur UAS kemaren yang hanya diberi 1 minggu oleh fakultas ya putuskan untuk pulang. Dengan waktu yang sempit Ummi sudah wanta-wanti agar ya gak kemana2 seperti liburan sebelumnya. Ya gimana gak mau kemana2, teman2 ya kebanyakan tidak ada di kampung, karena kebetulan ya sekolah di lokasi yang agak jauh dari rumah sejak SMP.
Intinya liburan kali ini ya gak boleh kemana2 dan gak boleh kembali jadi kepala suku para bocah2 sepupu yang lusinan dirumah. Pulang terakhir, butuh waktu satu minggu untuk membujuk mereka agar tidak tidur di kamar yaya. Tapi mereka dengan tampang sok bijaknya berkata ‘gak papa kak, kita mau tidur sama kakak sampai musim liburan selesai. Yang masih ngompol udah bawa popok kok’ katanya sambil mengacungkan popok untuk balita yang baru saja dibeli dengan bangga. Alhasil, untuk beberapa malam ya harus berkali2 terjaga karena di tendang dari sisi kiri dan dijadikan guling dari sisi kanan, dilanjutkan dengan mendorong mereka jauh2 dan kemudian mereka akan kembali lagi dalam posisi sebelumnya dalam waktu beberapa menit. Atau terpaksa harus mematikan TV lebih cepat, karena mereka dengan sok nya berkata. ‘gak papa kak, kita biasanya jam 12 masih bisa bangun kok”, sambil memperbaiki guling dan bantal dan bergaya menikmati bioskop transTV yang ya nonton, yang mereka sebenarnya belum mengerti ceritanya. Ya gak mungkin lah ya percaya, orang dianya udah sipit gitu gara2 ngantuk, ditambah lagi, sepupu yang lebih kecil baru aja tidur. Gak mungkin lah ya tetep nonton akhirnya jam 9 pm. Ya ikut tidur dengan mereka. -_-
Nah kenapa jadi cerita tentang mereka?
Lanjut ke nenek…
Waktu2 di rumah adalah waktu dimana pemulihan waktu tidur, waktu makan, waktu untuk memanjakan lambung, tak jarang hari-hari pertama di rumah merupakan hari yang paling menyenangkan untuk bermalas2an. Buat keluar rumah aja magernya minta ampun..  Dan kalau dalam waktu 24 jam ya masih tidak menampakkan wajah ke nenek, besoknya nenek yang akan berjalan ke rumah Cuma untuk melihat cucunya yang belum bertandang ke rumahnya sejak pulang dari rantau. Setiap hal itu terjadi, yang bisa saya lakukan hanya cengar cengir malu.
Liburan yang Cuma seminggu ini dan dijanjikan tidak akan kemana2 terlaksana. Sayangnya, meski ya gak malala kemana-mana, malah ayah ummi yang tiba-tiba sibuk di luar perkiraan, akhirnya selama liburan nenek sering nemenin yaya buat sekedar silaturahim ke rumah nenek yang lain (lho..) atau sekedar ke perkuburan suku yang disana terbaring keluarga2 dekat suku nenek, otomatis juga merupakan suku saya, melayu. Nenek yang emang dari awal memang sudah rajin kesana, jadi makin sering sejak kakek yang saya dan sepupu2 panggil dengan panggilan inyik dimakamkan disana. Inyik beristirahat diapit oleh 2 cucu laki2nya. Yang satu merupakan adik sepupu saya yang meninggal diusia 1 bulan dan satu2nya adik laki2 kandung saya yang meninggal akibat kecelakaan bermotor.
Saat di perkuburan nenek langsung mencabuti rumbut2 yang tumbuh disekitar pusara 3 orang tadi. Otomatis saya jadi ikut membantu, namun malunya saya setelah beberapa menit sudah capek duluan. Berkali2 curi pandang kearah nenek tapi beliau belum terlihat kecapean dan belum ingin berhenti sebelum matahari dhuha hilang.  Duh nek…. Usia saya masih seperempat umur nenek… tapi masih kalah kuat. Saat itulah kepikiran nenek itu wanita paling kuat yang pernah ya temui.
Nenek juga masih kuat ngasuh cucu yang lagi nakal2nya, berlari kesana kemari, masih kuat adu urat sama cucunya yang laki2 dan masih ABG. Porsi makanpun gak ada pantangan sama sekali seperti kebanyakan orang tua lainya, 2 kali lebih banyak daripada saya, masih rajin jalan pagi ke rumah saudara dan hebatnya lagi masih bisa baca koran tanpa kacamata. Gak kebayang betapa sehatnya pola hidup nenek di masa lalu. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

lagi , 48 menit dengan ummi…



Ngomong lewat handphone dalam waktu yang lama, Kebiasaan yang entah sejak kapan muncul, yang penting bukan sejak SMP karena teleponnya masih gantian buat seasrama. Dan sejak di bale, kebiasaan itu berkembang dengan pesatnya, dicurigai sih predispose factor-nya karena sekamar dengan orang-orang yang juga rajin menelepon orang tuanya dengan waktu yang lama. Kalau ada yang sudah asik ngomong dengan ibunya yang nun jauh di pulau sumatera, meski gak selalu tapi lumayan sering kita bertiga jadi sama2 menelpon dengan gaya dan logat masing-masing dengan satu bahasa, BAHASA MINANG, hahaha
Dan kemaren juga begitu, eh gak ding, yang ditelpon yaya sendirian, trus teman yang lagi nemenin makan jadi makan sendiri, sedang yaya makan sama ummi ditelpon… hehe kayaknya terlalu sering begitu deh…
Dan apa yang dibilang oleh Ummi saat itu intinya tentang bersyukur, risk factornya gara-gara ya cerita panjang sebelumnya tentang SOOCA ke ummi, etiologinya ummi emang suka membantu Yaya membuka pikiran lebih luas dengan cara bercerita yang panjanggg dan nyerempet kemana-mana.
Ummi cerita banyak hal, banyaaakkk sekali, salah satunya bersyukur dengan kenikmatan yang udah ya terima selama ini, keberadaan ayah dan ummi.
 Dari kecil ayah dan ummi juga udah sibuk, meski tidak sesibuk sekarang….. tapi lumayan dari kecil udah terbiasa ketemu ayah ummi, sore atau malam dan berpisah lagi paginya. Jadilah sepanjang siang setelah pulang sekolah sampai sore 2 bocah, yang notabene saya dan adik saya mengusai rumah, dengan bertengkar, bermain dan bertengkar lagi, dan diakhiri dengan duduk2 di beranda depan rumah menunggu ummi pulang seperti anak hilang.
Meski begitu ada hal yang ya sadari yang special di masa SD ya. Ayah hampir selalu ada dirumah setiap shalat. Minimal shubuh, maghrib , dan isya’. Selalu menjadi imam tiap shalat. Meski laki2 disunnahkan untuk shalat di mesjid, meski baru saja dinas di luar kota ayah selalu berusaha untuk sholat dirumah, mengimami keluarga kecil kami ,mengajari anak-anaknya untuk sholat, berzikir dan mengenal Allah. Hal ini ya berapa tahun belakangan, ternyata sangat special, tidak semua anak merasakannya. Sejak ya jauh dari rumah. Meski selepas SD ya lebih sering jamaah di mesjid karena emang di asramakan, sholat berjamaah di rumah dengan menjadi salah satu hal yang ya tunggu di rumah.
Saya kecil tidak pernah kehilangan sosok ayah dan ummi karena quality time yang mereka sediakan. Meski ya sadari ayah dan ummi gak hobi jalan-jalan jadi tiap liburan kami selalu menghabiskan waktu buat silaturrahim ke keluarga ayah di padang. soal bermain ke pantai, gunung, danau, atau Rajang (sungai) itu saya dengan adik lebih sering ikut rombongan sepupu2 sekaligus tetangga, berhubung ayah dan ummi lebih suka menghabiskan waktu senggang dengan istirahat di rumah. Ya, baru-baru ini saya sadari, itu adalah liburan yang paling menyenangkan bagi mereka setelah seminggu berkutat dengan segala kesibukan pekerjaan.
Dibalik semua itu, seperti semua anak lainya, bagi mereka orang tua mereka adalah orang tua terbaik di dunia. begitu juga dengan saya, ayah ummi adalah orang tua terbaik. yang menceritakan kisah lucu sebelum tidur, yang mengajari keberanian, ikhlas, syukur, kebahagiaan.
Dan sampai saat ini, mungkin… saya masih my daddy little girl. Masa pas ya bilang ke ayah kalau ntar siang mau main ke kebun binatang, pesan ayah.. ati-ati yo nak, jan paneh-paneh, beko damam. Mau gak mau denger ya meringis sendiri mendengar pesan itu. Merasa seolah diperlakukan kayak anak kecil. (ya iyalah mainnya aja ke bonbin). Padahal menurut slide lecture tahun lalu seharusnya saya  sekarang sudah adult, eh atau masih adolescent ya??  tapi kemudian ya sadar, Meski sangat sering ayah mengajarkan banyak hal untuk menjadi dewasa… mungkin bagi ayah tidak ada yang berubah, ya tetap anak gadis kecilnya yang, tidak boleh digigit seekor nyamuk pun….
TERIMA KASIH AYAH..
TERIMA KASIH UMMI…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

berjuang


(bdg,190112)

“semua orang menjalani hidup mereka dengan cara yang berbeda-beda”
Ada yang susah ada ada yang gampang…
Semuanya hanya berusaha untuk tetap bertahan dengan sebaiknya di dunia ini..
Meski tak nyata , meski tak abadi…
Tapi kehidupan sekarang bagaimanapun caranya harus dilalui dengan sebaiknya…
Dengan menjadi manusia sebaik manusia….
Sebagai apapun itu,
Pedagang tahu brontak yang memikul 2 bakul berat dibahunya…
Berjalan hati-hati menjaga keseimbangannya..
Agar 2 bakul itu tetap sempurna seimbang…
Meski berat, meski tertatih…
Mungkin ada banyak perut yang lapar menunggunya di rumah..
Mungkin ada pensil yang sudah pendek dan tumpul yang  ingin segera diganti…
Dia berjuang untuk itu..
Menahan pegal dan lelah, bahkan terik mataharipun ditantang dengan berani…
Karena itu dia berjuang untuk hidupnya…
Duhai…
Semua orang berjuang untuk hidupnya…
Bahkan bocah sepinggang dengan rambut pirangnya itu pun..
Ikut mencari sekeping receh untuk makanya
Bermodalkan gitar, suara cempreng yang mengesalkan dan mental baja..
Ia berkeliaran di jalan raya…
Mungkin mereka pernah mengeluh…
Kenapa mereka harus hidup seperti ini..
Mungkin mereka pernah mengeluh…
Kenapa takdir memilih mereka untuk menjalani hidup yang berkesusahan
Kenapa bukan mereka yang ditakdirkan untuk duduk nyaman didalam mobil ber-AC itu dan mengutuk kemacetan kota
Bukannya malah menantikan macet itu datang untuk menjajakan koran
Semua keluhan mereka pasti ada jawabannya…
Ada yang menemukannya dan ada yang dibutakan hatinya untuk menerima
Yang pasti manusia memang diciptakan berbeda-beda
Agar kita bisa saling mengenal
Agar kita bisa saling memberi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Taman ilmu di kaki bukit pinggiran kota

Beberapa hari lalu iseng ngutak ngatik timeline sendiri di fb. Ini nih manusia dengam tingkat ke kepoan hampir mencapai 0, jangankan stalking timeline orang lain.. timeline sendiri aja gak disentuh2. Akibatnya banyak pertanyaan, ucapan selamat.ulang tahun dan tulisan2 lain yang mampir ke blog dan membutuhkan jawaban terabaikan begitu saja. Saat sadar hal itu tentu aja merasa bersalah, selain ucapan selamat ulang tahun yang tidak dibalas, apalagi salah satunya dari guru ya jaman sma dulu yang udah banyak banget ngebantu yaya dalam extrakurikuler S3I dulu.
Dan satu lagi komentar dari seorang yang mampir ke dinding akun yaya, sempat membuat neurotranmitter menyampaikan sebuah informasi dalam waktu seperrrrr milidetik. Membuat bayangan2 memori kenangan 8 tahun silam.
 
Setelah 3 bulan mendulang kehidupan di Sekolah Menengah Atas negeri dekat rumah, yang deketnya bikin pengen pulang tiap istirahat yang cuma 15 menit, Ya 'disarankan' untuk pindah ke pesantren. Kata ummi bocah kurus baru lulus SD itu gak mau buat dipesantrenin pada awalnya. Dan sampai sekarang gak ingat apa ya bener2 mau masuk pesantren atau dihipnotis sama ummi, saking blank nya saat itu.

Saat dibarang2 ya dipack ke koper, kayak hampir semua isi kamar ya dipindahin ke koper itu yang akhirnya gak muat di lemari pesantren yang ukurannya segede kulkas satu pintu yang waktu itu tingginya cuma sedagu. Atau saat belanja kebutuhan sehari2 di supermarket, satu trolli penuh buat sendiri hal yang sebelumnya gak pernah terjadi. atau saat masuk asrama yang ruangannya dipenuhi kasur, lemari dan anak2 tak dikenal. Dan kesadaran baru sudi balik ke dalam pikiran saat ekor mobil menjauh dengan yaya yang hanya melihat sendiri dengan ustazah yang sebelumnya pernah ya kenal sebagai murid ayah, tapi tetap saja gak ya kenal sebelumnya. Semua yg pernah diasramain atau ngekos ditempat yang jauh dari rumah tanpa kenal.seorangpun disana, dan saat itu mata ya sempat berkaca2 menahan air mata yang entah kenapa memberontak ingin keluar dan beberapa hari kemudian menyesal sempat berkaca karena diketawain ustazah ketika ditelpon ayah.

Aneh... bener2 serasa orang asing disana. semuanya berbahasa indonesia, padahal biasanya ya pake bahasa minang sehari2 dan senior2 menggunakan bahasa gado2 arab inggris. aneh saat mendengar salawat yang dilantunkan oleh suara2 cempreng anak SMP.
Saat berjalan kemesjid yang pastinya dipenuhi oleh santri bermukena lengkap  melantunkan tilawah, menambah atau mengulang hapalan dengan suara yang keras, seperti yang disarankan oleh Pak Haji, pemimpin ponpes yang baik dan tegas. Profil beliau persis seperti pak haji di komik2, berkopiah berjanggut putih dengan setelan koko berwarna putih lengkap denga sarungnya.

Kelas dimulai setelah ceramah sehabis shubuh selesai, dengan mukena, alquran dan wajah pagi yang ngantuk kita berjalan setengah ngantuk ke ruang kelas. Masih sangat pagi lho saudara2 bahkan terkadang langit masih menyimpan bintang karena matahari masih terlelap.

Setiap pagi memang selalu ada kelas tambahan, seperti belajar percakapan dalam bahasa arab, muhadarah, tahfiz, atau sekedar disemangati secara langsung oleh pak haji. Kadang ketika kami usil dan lagi ngantuk, semua santri tidur dikelas, menutup pintu dan mematikan lampu seolah2 kelas masih kosong pagi itu. dan taktik itu selalu gagal.

Oh ya dipesantren santri perempuan dipisahkan dengan laki2. panggillannya santriwati dan santriwan. Kita gak pernah bertemu kecuali saat acara milad ponpes yang diadakan sekali setahun di salah satu.gedung pertemuan di Padang.
Jadi baik itu ruang kelas, laboratorium biologi, komputer, perpustakaan, kantin, disediakan terpisah dan mesjid hanya mesjid yang digabung tetapi dihijab 2.5 meter.

Saat Yaya masuk kita sekelas berjumlah 12 orang dan suasana dalam kelasnya menyenangkan. Karena setiap kita saling mengenal satu sama lain seperti saudara bahkan dengan ustadz ustadzah pun kita dekat seperti kakak adek. Tidak ada suasana mencekam dengan guru killer yang y temukan di SMA.
Masa' di hari pertama sekelas ngambek sambil munggungin ustadznya selama beberapa detik karena protes Yaya banyak ditanya2 sebagai anak baru.

Dipesantren gak ada senioritas kyak sekolah lainnya. kita tetap hormat, tapi persis seperti pada saudara perempuan kandung, juga bisa berantem seenaknya. Di pesantren itu kayak gak ada beban. Tergambar dari wajah ceria anak2nya, canda tawa mereka. Dan hal itu baru ya sadari ketika bertemu lagi setelah berpisah 3 tahun di walimatul 'ursy seorang kakak kelas di pesantren.

Setiap sore ada muhadarrah berbahasa inggris atau arab. Suatu hal yang meski saat pelaksanaannya tidak terlalu menyenangkan, baik sebagai yang muhadarrah atau yang mendengarkan bagi saya yang gak hobi duduk tenang dan mendengarkan dalam waktu yang lama tapi saat udah gak dipesantren lagi manfaatnya kerasa  banget, misalnya saya jadi lebih biasanya ngomong didepan umum dll deh.
Malamnya sehabis maghrib. Kegiatan dilanjutkan seperti sehabis shubuh sampai waktu isya' masuk. setelah isya' kegiatan mandiri dan lampu dipandamkan pada jam 9.30 dan esoknya hari kemnbali dimulai pada.jam 4 pagi.

Semuanya diatur kecuali pada hari minggu yang paginya goro dulu dilanjutkan dengan kegiatan ekstra biasanya sih menjahit yang prosesnya lamanya kebangetan dr bikin pola sampai selesai pakaiannya udah kekecilan karena saking lamanya.
Semua rutinitas itu menyenangkan bagi saya. Meski banyak yang menyebut nya sebagai penjara suci saking terkurungnya, terpencil di kaki bukit pinggiran kota ( kalo kata teman2 SMA ) dan gak bisa kemana2. Ya sama sekali tidak terpenjara, karena sejujurnya disana jiwa ya bebas, masih banyak hal yang masih ingin saya ketahui di setiap sudut tanah pesantren yang berhektar-hektar itu.

Sabbihisma Rabbikal a'la, Sucikan nama Tuhanmu yang maha tinggi. Semua pengalaman itu terlalu berharga untuk dilupakan. Disana saya belajar tentang pencipta saya, mendalami alquran dan bahasanya, mempelajari manusia dan prilakunya, mengenal alam yang luar biasa. Atas semua itu meski belum ada tulisan tentang pesantren disini ya gak akan pernah lupa pengalaman 2.7 tahun disana.
 
Terkhusus buat sahabat2 ponpes, lewat tulisan ini Yaya kirimkan  terima kasih, salam rindu dan kenangan yang terbentuk dibalik pagar pondok pesantren di kaki bukit itu.

Published with Blogger-droid v2.0.9

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Maaf dan Terima kasih

"Yabo aku perhatiin jarang ya muji orang"

Sore itu kembali terngiang-ngiang komentar seorang sahabat jaman sekolahan dulu dengan logat melayu pontianaknya. Jawabanku saat itu hanya "O ya?" sambil sibuk recall memori di otak, dan setelah itu nyengir tanda setuju.

Dan pernyataan itu masih berlaku sampai sekarang. Soal puji memuji orang saya sama sekali bukan ahlinya. Eh, tapi bukan masalah sombong atau gak, entah kenapa mulut ini jarang banget muji  meski hanya sekedar bilang 'keren', 'bagus', 'hebat'. Sekali-kalinya muji itu pasti benar-benar dari hati.

Kemarenkan ceritanya, habis evaluasi, kesan, saran di akhir kepengurusan. Meski sadar yang banyak salah dan berbagai macam hal lainnya. Apa daya yang tertulis dan terucap hanya evaluasi dan saran lupa minta maaf apalagi terima kasih.

Padahal setau ya, mulut ini pengen bilang terima kasih buat semuanya, buat teteh yang ngajarin buat fokus, disiplin, teratur, tegas bantu mecahin masalah dengan kalem dan bijaksana. Maaf y teh kalau aku sering  kadang-kadang keras kepala kalau diingetin. Atau buat mamah yang selalu lembut kalem dan rempong, suka banget pasang wajah menyemangati dan ngepuk-puk  tiba-tiba padahal lagi gak ngapa2in dan dibalas sewot sama akunya. maaf ya mah, udah beberapa kali sewot begitu (hehehe peace). juga maaf kalau ternyata ya udah jadi taukhty yang buruk, gak ngeh kalo mamah juga lagi rempong dan kerepotan akan banyak hal. Juga buat teman yang selalu nemenin yang satu itu, yang udah jadi controller tiap jiwa dan raga ini udah mulai keluar jalur (eh), pokoknya kalau kata saya ini (tenang, dan istiqomah??) pasti itu keliatanya pas lagi deket2 atul, sejenis dikasih sedasi gitu pake pelototan. Sekaligus partner in crime kalau lagi sama-sama aneh. Maaf ya tul, kalau dibilang sering sradak sruduk yaaa makhluk yang paling sering kena seruduknya ya dia. Bisa keinjeklah, kegencet lah, kelindes lah.

Juga buat Pak ketua yang sering banget gak diwara' sms buat syuro, sering telat, gak ngerjain tugas, atau sering sibuk mainin HP pas lagi syuro. Well, sebenernya ya lumayan banyak salah nih sebagai jundi. Makasi karena gak pernah dimarahin (atau sebenernya pernah tapi gak pernah ngerasa), udah jadi ketua yang baik, selalu berusaha ngelucu biar syuronya gak bosen meski kebanyakan garing. Buat Om partner nya pak ketua (kita seringnya nyebut gitu soalnya kalo jalan berdua, mereka kayak bapak-bapak, sama om-om). Hmm sebenernya merasa gak punya salah sih sama Om yang satu ini. Hehehe kepedean padahal kalo rapat jarang lapor dulu, make sekre, suka nyusahin tanpa sadar lagi nyusahin orang dan susah banget dimintai uang buat bayar jaket, padahal dp doang. Termasuk anggota tim yang sering 'terlihat' galau, meski jarang terlihat raganya kalau lagi syuro. Yang gak pernah ya sapa kalo lagi papasan, padahal satu tim -__-". Trus buat partner di departemen yang meski sering banget miskom, tapi tetep bisa jalan. Ngajarin banyak hal dan selalu berapi-api memotivasi, selalu punya banyak ide tapi kadang gak di follow up (atau sayanya yang gak tau.... :| ). tapi overall keren lah, meski kegiatannya banyak banget, tapi tetep sukses di semua yang banyak banget itu, termasuk di Asy-Syifaa'. (eh nyebut merek)

Ya udah segitu doang sih permintaan maaf dan terima kasihnya, gak usah panjang-panjang juga kali yeee. Capek juga nulisnya. padahal kemaren punya kesempatan diomongin langsung tapi dasar ya gak improntu mikirnya kelamaa. Dan ini deh hasilnya.
by the way..
terima kasih semuanya buat setahun ini. Ya bener-bener belajar buanyakkkk hal..... semoga setiap usaha kita semua setahun belakang diridhoi Allah, dihitung sebagai amal ibadah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

bagiku manusia

bagiku selalu menyenangkan memperhatikan gerak gerik manusia. melihat ekspresi wajah mereka yang berbeda2. Melihat mereka berjalan beriringan tapi dengan tujuan yang berbeda atau dipagi hari melihat anak2 berseragam dengan tas besar warna warni dipunggung  berjalan dengan gerombolan mereka. Melihat pegawai-pegawai dengan seragam kantor mereka, dengan tas kantor mereka yang khas. Pedagang yang menggeliat membuka warung. Mobil-mobil yang berjalan dengan pengendara yang entah akan menuju kemana..
Kau pasti sering melihat semua hal tadi.. hal yang sangat biasa bukan? tapi di mata ku itu luar biasa.
dibalik setiap ekspresi wajah itu tersimpan hal2 yang berbeda, sedih, senang, kecewa, berharap. dan dibalik gerakan mereka ada tulang yang digerakkan oleh otot yang mendapat kiriman perontah berupa aliran listrik akibat perpindahan elektron dari sel.ke sel lainnya dalam waktu seperrr.... detik. ada jantung yang berkontraksi seirama, membuat seluruh pembuluh arteri berdenyut. Seiring dengan aliran darah setiap jaringan setiap sel dalam tubuh mendapatkan jatah makanannya masing-masing. Dan lambung ikut berproses mencerna sarapan, dengan enzim2 pencernaan. Memecah dan membentuk molekul baru menghasilkan sumber energi untuk semua aktivitas tubuh.
Otak sebagai pusat dari semuanya sibuk. Menerjemahkan informasi tang didapat oleh pancaindra, mengubah pantulan cahaya pada benda menjadi penglihatan membongkar lemari,memori dan menerjemahkan benda yang tinggi itu sebagai pohon, begitu juga dengan telinga, mata,.hidung dan indra lainnya.
Dan saat semua nya terjadi manusia itu hanya sedang melangkah satu kakinya, tidak merasakan apa2. Tidak heran dengan mobil yang melintas didepan mereka, tidak merasakan betapa nikmatnya udara yang mereka hidup tanpa peduli betapa kembang kempisnya paru2 memompa dan menyaring udara2 itu dalam kapiler2.
Terlalu ribet kan? riweuh kalo kata orang sunda. tapi saat itulah aku bersyukur pada Tuhanku. Dia yang mengatur semuanya agar terlaksana. bukan, hanya satu manusia.. tapi semua yang ada dunia tak luput hewan dan tumbuhan, termasuk makhluk ghaib yang organ tubuhnya ghaib juga.
Dan setiap sel dalam tubuh yang ada saat ini menjadi pengingat setiap aku mulai melupakan kerja keras membuat jantung ini tetap berdetak, mata ini bisa melihat, dan otot ini tetap bergerak.
"dan nikmat Tuhan mana lagikah yang kau dustakan?"

Published with Blogger-droid v2.0.9

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS