![]() |
| Mushroom kare with rice lvl 3 |
![]() |
| Greentea latte, 30K |
Seorang hamba, anak,kakak, istri, calon ibu dan dokter.
![]() |
| Mushroom kare with rice lvl 3 |
![]() |
| Greentea latte, 30K |
Bukan, ini bukan cerita fiksi tentang penyihir jahat yang gemar memangsa anak-anak. Ini hanyalah sebuah kisah nyata, secuil dari kenyataan sekitar kita.
Seorang nenek terbaring, lemah di gubuk kayu miliknya. Sepotong kain sarung usang menutupi sebagian kecil auratnya. Ah, bagi nenek setua itu hukum aurat tidak berlaku lagi baginya.
Sesaat setelah mataku bersirobok dengan nenek itu, sejenak aku melihat sekitar. Rumah ini hanya terdiri dari 1 ruangan tidak bersekat. Sebuah kasur kapuk tua yang sudah tipis dan terlipat. Sepertinya itu bukan milik si nenek, dia terlihat tidur dengan bantal luar biasa kumal yang menyangga kepalanya sekarang. Beberapa teko dan gelas plastik tergeletak 2 meter dari nenek tadi. Beberapa lemari tua tampak di sudut rumah, dan sebuah pintu di bagian belakang rumah langsung menuju ke halaman luar. Rumah ini jelas bukan rumah tanpa jendela, ada 2 bilah papan yang didesain sebagai jendela namun tidak digunakan sebagaimana fungsinya. Nenek tua itu pasti tak sanggup dan siapapun yang tinggal dengannya nampaknya juga tidak peduli untuk membuka jendela.
Ini kali kedua aku kesini, kali pertama aku menemukannya terbaring kesakitan dengan kaki, dan perut yang membengkak. Duhai gusti, pasien dengan gagal jantung seperti ini harusnya sudah dirawat di rumah sakit. Namun yang menjadi masalah adalah tidak ada yang bisa menemaninya saat dirawat, meskipun pemerintah bisa mengratiskan biaya, siapa yang akan menjaganya dI rumah sakit?
Kali ini saat aku kunjungi kondisinya nenek sudah baikan namun tetap saja masih ditemukan pembengkakan di kedua kakinya, meski sudah berkurang dari 1 minggu sebelumnya. Kagetnya, tangan kiri si nenek bengkak maksimal. "Lah ini kenapa? Kok tetiba eden lokal begini?" Usut punya usut nenek ini dengan santainya mengatakan kalau dia digigit kaki seribu beberapa hari yang lalu saat membersihkan sampah.
Membersihkan sampah? Dengan kondisi begini? Namun mau bagaimana lagi tidak ada anak cucu yang mampu mengurus orangtua yang sudah mengurus mereka hingga dewasa. Bagaimana jika itu nenek saya? Atau ibu saya? Atau diri saya sendiri kelak, ya Allah. Hanya berdecak miris dan kasihan tidak dapat membantu apa-apa. Untungnya hidup di kampung beberapa tetangga masih dapat membagi rizki mereka sekedar untuk makan si nenek. Untuk urusan menemani di bangsal rumah sakit ketika nenek ini harus dirawat tentu saja merupakan permasalahan yang berbeda.
Menghubungi panti sosial mungkin adalah keputusan yang terbaik, meski belum dicoba semoga nenek ini bisa mendapatkan yang terbaik #hosh
Suatu sore di sudut kota Padang, langit sudah mulai menunjukkan keanggunan warnanya. Semburat merah, oranye, biru, putih membaur menunjukkan warna masing-masing. Lalu lintas sibuk, hari ini sabtu sore, sebagian dari mereka bergegas mengemasi diri bersiap untuk akhir pekan yang tertunda, sebagian lagi memang sedang menikmati akhir pekan disini, entah karena mereka memang penduduk daerah ini atau hanyalah menggunakan jalan yang sama seperti saya. Bus yang saya naiki bergerak pelan. Manusia sibuk lalu lalang, isi kepala mereka seperti penuh dengan pikirannya masing-masing. Diantara kesibukan sore itu 5 orang anak berjalan beriringan menyusuri rel. Setiap mereka memegang tali dengan batok kelapa diujung nya. Enggrang. Ya mereka membawa enggrang sederhana buatan sendiri. Sudah lama saya tidak melihat alat seperti itu setelah pemandangan anak dan remaja duduk diam menatap gadget sudah menjadi pemandangan biasa yang membosankan, siluet 5 orang anak ini begitu menarik. Lima orang anak yang berjalan beriringan, postur mereka menunjukkan bahwa mereka sedang asik berbincang. Bagaimana rel kereta disore hari membuat mereka seakan-akan berada di tengah frame, yang dibingkai oleh warna warni langit yang menawan. Berharap dapat membekukan momen ini dalam bentuk digital, bus sudah terlanjur melaju.
"karena DBD sudah masuk ke kategori KLB, dok", jawaban perawat setiap pertanyaan serupa terlontar.
Waktu masih bocah dulu, entah pernah baca di Bobo atau di buku ilmu buku ilmu pengetahuan khusus anak-anak yang isinya gambar semua saya tahu bahwa anemon laut itu beracun, hanya ikan badut yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama ikan nemo sejak kartun disney ikan badut yang menjelajah samudra mancari anaknya itu muncul. Nah, berarti sejak belasan tahun lalu (kok berasa tua amat ya, haha) fakta bahwa si anemon itu beracun, saya suah tahu, dan dodolnya ketika ketemu di laut (ceritanya habis snorkling di Karimun Jawa-pamer) pas lagi foto-foto sama rumah nemo, rumahnya aku grusuk sembarangan, pas naik ke permukaan kulit tangan jadi perih dan langsung curiga sama anemon. Ternyata selidik punya selidik teman-teman yang lain juga mengeluhkan hal yang sama perih dan merah pada kuilt mereka, lebih parahnya lagi yang kena kulit paha yang emang lebih sensitif dibanding tangan. Salah sendiri ngapain berenang pake celana pendek, pake gamis noh, muehehehe.
Sebagai mahasiswa kedokteran yang sudah lulus, tapi belum disumpahi jadi dokter, kita berlima mearasa sangat dodol karena tidak bawa obat apa-apa untuk hal-hal seperti ini. Rata-rata hanya membawa paracetamol sama antimo. Daan, dodolnya lagi kita juga gak tau mau ngasih apa kalau disengat anemon, hahaha akhirnya dengan berbekal rasa malu, google dan harapan buat main ke laut lagi saya mencari hal-hal yang berhubungan dengan penangan pertama pada sengatan hewan-hewan laut.
dikapslok ya biar jelas inti ceritanya apa
PENANGANAN PERTAMA PADA KECELAKAAN LAUT (gk kecelakaan laut juga sih, ini biar keren aja)
TERSENGAT ANEMON
Ini nih yang sudah membuat kulit kita muncul bruntus-bruntus perih mencurigakan, merah atau ungu. Gejalanya bisa cepat atau delayed, juga harus diperhatikan jenis makhluk yang menyengat, karena toksinnya berbeda-beda tiap spesies
tanda-tanda yang sama akan muncul pada tersengat ubur-ubur atau tentakel lainnya, kalau mau nyari secara ilmiah kata kuncinya 'Cnidaria envenomation', kalau medscape bisa liat disini http://emedicine.medscape.com/article/769538-treatment#d9
Reaksi muncul diakibatnya oleh nematokista yang di eksosotosis dari tentakel tersangka.
Untuk pentalaksaan sementara dapat menggunakan cuka atau asam asetat 4-6% pada daerah yang terkena selama paling tidak 30 detik. Merendam dengan air hangat pada suhu 40-45 C selama 20 menit juga dapat mengurangi gejala akibat C barnesi and Physalia (itu sejenis ubur-ubur) . Tidak disarankan menggunakan urin, ethanol, methylated spirit.
Kalau ada tentakel yang nempel, gunakan cuka atau cabut dengan forcep. harus diperhatikan apabila tentakelnya masih hidup, karena toksin nya masih akan keluar sampai beberapa jam kedepan.
Apabila yang muncul hanya berupa gejala lokal, yang mana symptomnya biasanya mild, dapat digunakan salep. Bersihkan dahulu daerah yang terkena dengan air laut, oles tipis salep hidrocortisone 2.5%, sampai gejala hilang, apabila setelah 2-3 hari tidak hilang, sebaiknya cari pertolongan medis. Apabila tidak tersedia, dapat meminum MP atau dexa, tapi obat-obat ini tidak untuk dikonsumsi jangka panjang, hanya untuk menghilangkan efek inflamasi. Untuk nyeri dapat menggunakan PCT, atau ibuprofen.
bagi para petugas medis, terutama dokter intership yang mencari lokasi iship dekat pantai agar bisa sekalian liburan, dan dengan sialnya lagi jaga di IGD, hal yang harus anda perhatikan adalah
I used to hate hospital, paling tidak ketika sudah mengenakan toga S.ked, bagi saya rumah sakit masih tidak menyenangkan.
Dulu bocah kecil kurus ini memang lumayan sering sakit, sekali dua kali terpaksa harus menginap di rumah sakit, dengan diagnosis thypoid. Merasakan malam di rumah sakit yang mengerikan, dan makanan rumah sakit yang lebih mengerikan lagi ditengah tubuh yang lemas karena kalah perang melawan kuman salmonella. Selanjutnya, entah kenapa setiap demam tinggi (yang selalu datang ketika malam dan baikan pagi harinya), diikuti dengan gangguan pencernaan, juga batuk pilek ringan saya hanya dibawa ke tempat praktek dokter terdekat dan bed rest di rumah. Sejak itu saya mulai merasa asing dengan suasana rumah sakit. Setiap menjenguk kerabat ke rumah sakit, setiap melihat tulisan 'anak berumur dibawah 7 tahun dilarang masuk', saya merasa rumah sakit bukanlah tempat yang bersahabat untuk manusia , apalagi anak-anak.
(skip)
Tiba2 waktu membawa saya kesini, mempelajari ilmu tentang manusia dan bagaimana caranya untuk memperbaiki kualitas hidup manusia terutama dari sisi kesehatan. Tidak mutlak memang, namun lebih dari 50% kemungkinan masa depan saya akan berada di rumah sakit berinteraksi dengan pesakit dengan jutaan kuman yang bertebaran disana. Dimulai dari sekarang, meski baru berperan sebagai asistennya asisten. Tidak secara langsung berhubungan dengan pasien, namun hampir setengah dari 24 jam jatah bernafas saya dalam sehari dilakukan di rumah sakit (ditambah dengan porsi jaga malam) ada sisi baru rumah sakit yang saya tangkap.
Rumah sakit ternyata bukan hanya tempat para kuman bertebaran (seperti yang saya kira dulu), tapi disana ada harapan. Harapan untuk kesembuhan dari keuarga pasien untuk orang-orang yang mereka cintai yang terbaring lemah di bed rumah sakit.
Disana terlihat besarnya pengorbanan orang tua menunggui anaknya yang sakit, berhari2 bahkan berbulan-bulan melupakan fisik mereka sendiri yang juga lelah.
Disana terlihat bagaimana seorang anak membuktikan baktinya pada orang tua mereka yang renta, terbaring sakit, saat mereka anak-anak yang sudah dewasa itu mempunyai kehidupan sendiri dengan keluarga kecil mereka mereka tetap merawat orang tua dengan rasa sayang dan hormat yang tidak dikurangi dengan semua masalah keuangan, waktu dan anak2 mereka yang masih kecil dan ditinggal dirumah.
Di rumah sakit sering terlihat wajah dengan kesedihan mendalam, wajah2 kehilangan yang tidak rela kehilangan, penyesalan, atau yang berusaha tegar meski dengan air mata di pelupuk mata, wajah2 yang berduka.
Tapi juga ada wajah yang berseri bahagia, memandang penuh kagum menyapa makhluk kecil yang telah mereka nanti selama 9 bulan, seorang laki2 yang terlahir kembali sebagai seorang ayah menyenandungkan azan dengan canggung di samping makhluk kecil yang terdiam bingung di dalam inkubator. Haru.
Ada perjuangan demi antrian peringanan biaya rumah sakit, bersaing antrian dengan pasien lain demi bpjs yang sistemnya masih terlalu muda untuk dikatakan bagus.
Ada kesenjangan status sosial yang membedakan fasilitas dan pelayanan yang didapat. Miris memang membandingkan ward kelas terendah yang seperti pasar dengan ward kelas tertinggi yang seperti kamr hotel berbintang, di bawah satu atap rumah sakit yang sama. Sebuah pr besar bagi sistem dan pelayanan kesehatan Indonesia.
Di rumah sakit terjadi banyak peristiwa besar dalam kehidupan manusia, lahir, melahirkan, dan kematian. Hanya pernikahan yang tidak dilangsungkan disana (kecuali bagi fachri dan maria di buku aac-nya habiburrahman😁).
Hal kecil yang bisa membuat saya bersyukur bisa menyaksikan semua itu. Alhamdulillah.
https://www.evernote.com/shard/s308/sh/2cbdfdb6-8009-4282-b403-6f77bee91f96/1c4bc4619657bd9035701b20b1069af4
Menjadi seorang muslim itu menyenangkan, tersedia 'rest time' tiap harinya, 5 kali sehari. Sudah ditimming pas dengan puncak derajat boring manusia.
Sore itu, setelah perjalanan yang begitu melelahkan, Sebuah keluarga kecil mendarat dengan sempurna di halaman mushala sederhana di tepi jalan. Oh ya, mereka melakukan perjalanan di daerah yang tidak mempunyai rest area kayak tol sepanjang banten-cileunyi, tapi sepanjang jalan tersedia mesjid dan mushala yang bisa digunakan untuk melakukan ibadah bagi kaum muslim.
Setelah menyucikan diri dengan berwudhu', menenangkan diri dengan sholat gadis kecil dalam keluarga itu kembali melipat mukena yang ia kenakan, dan meletakkan nya kembali di atas sajadah tempat semula mukena tersebut.
Tapi ummi menegur gadis kecilnya, kenapa tidak meletakkan mukenanya ke dalam lemari, tempatnya seharusnya.
Gadis kecil itu berkerut, baginya meletakkan sesuatu kembali pada tempat yang sebelumnya sudah cukup.
"Meletakkan mukena kembali ke tempatnya adalah hal sepele yang mengandung rasa terima kasih setelah menggunakan mukena yang tersedia di mesjid"
Gadis kecil itu tertegun, ternyata prinsipnya bahwa 'meletakkan kembali sesuatu di tempat sebelumnya' masih kalah gaul dari 'meletakkan pada tempatnya'.
Apabila sanggup membalas sebuah kejahatan dengan kebaikan kenapa harus membalasnya dengan kejahatan kembali? Bukankah lebih dianjurkan untuk berbuat lebih baik.
Tersebutlah seorang anak kecil yang selalu mengikuti ayahnya berpergian. Setiap hari dia diberikan jatah jajan. Setiap tahunnya terdapat satu bulan dimana sang ayah memberikan kesempatan bagi anaknya untuk membeli apa saja, apapun yang dimintanya diberikan tanpa terkecuali. Tapi sayang setiap tahunnya di bulan itu ayahnya selalu mengajaknya berpergian ke tempat yang jauh. Meski mengetahui kesempatan emas di bulan itu sang anak lebig sering memilih istirahat menghilangkan rasa lelahnya. Dan tanpa terasa sebulan telah berlalu tanpa ia sempat meminta banyak hal... Marhaban ya Ramadhan.. biarkan aku menjamu mu dengan sebaik-baik jamuan
Randomly, berselancar di dunia maya tiba-tiba menemukan kata-kata 'dadiah', di kolom pertama hasil penemuan search engine.
apa itu dadiah? kok familiar sih? http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/05/21/470/155517/Dadiah-Yoghurt-Ala-Minang.
setelah dibaca oh ternyata itu makanan...
ya...ya..ya
saya memang pernah melihat benda seperti itu di pasar tradisional di desa saya, dijajakan beberapa biji.
saking penasarannya, tiap melihat benda itu saya selalu bertanya pada ummi karena selalu lupa. dan jawaban ummi akan sama. 'oh, itu dadiah, fermentasi susu kerbau, ya mau nyoba?' mendengar kata kerbau ya agak ngeri dan langsung menggeleng dan melupakan makanan bernama dadiah itu dengan cepat.
makhluk bernama dadiah itu disimpan dalam tabung bambu yang ditutup plastik, tampilan luarnya sama sekali tidak menarik perhatian ya waktu itu. nama dan asal mulanya pun tidak menarik, sehingga meski penasaran bagaimana rasanya, tidak sedikitpun tertarik untuk mencoba.
| http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTkMOBx_BOnOjpp4RQTYCj97NhDJ3HL788jgIxX4y8HBeRfJDsXBA |
![]() |
| http://www.google.com/imgres?q=dadiah+minangkabau&um=1&hl=id&biw=1366&bih=624&tbm=isch&tbnid=0yvuIPB3lK9Y0M:&imgrefurl=http://h4nk.blogspot.com/2012/11/makan-dan-minuman-khas-ranah-minang.html&docid=gKfAQCW63mi6NM&imgurl=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVvseCtjb4WZD_pNkTDfAFaLbyVLC2cnP-0b0X5xUHI5t3mEd1GBRhqMkGlQxuQOT4KTfTrlvvo2IH1SlVpF_9CHgcIcAM7UiWKyhAjVga2_A4_oekLAHkWdFm5FaEakuyOuQvs7zGOruO/s640/ampiang-dadiah.jpg&w=640&h=480&ei=xF6lUeyuHMnQrQeLw4CYCg&zoom=1&ved=1t:3588,r:5,s:0,i:94&iact=rc&dur=441&page=1&tbnh=186&tbnw=242&start=0&ndsp=18&tx=78&ty=77 |
| http://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&docid=glg2oQnel7MrlM&tbnid=eLMOls2HcCbKhM:&ved=0CAgQjRwwAA&url=http%3A%2F%2Fwww.padangmedia.com%2F13-Berita%2F79106-Es-Cream-Dadiah.html&ei=3l6lUf-CB4OmrQeNk4DgCw&psig=AFQjCNHiTMmT3V1tmtwLwtCmHCF7JsD_aA&ust=1369878622207106 |
