Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Koas Forensik

Setelah hampir dua tahun berlalu, saya hampir benar-benar lupa apa stase kedua yang saya jalani setelah stase anak. Setelah mencoba untuk mengingat melalui foto, ternyata nihil. Jaman koas saya sudah mulai tidak serajin SMA atau kuliah dalam hal menyimpan foto, terlebih HP tergaul saya jaman itu series sams*ung S2 saya hilang saat stase koas hiks (malah curhat)

clue:
stase kecil bukan radiokulitanes

apakah itu stase 4n6 atau forensik?

Yup setelah 6 menit mencoba loading picasa, yang hanya berakhir di foto supercamp tahun 2014 akhirnya saya memutuskan Stase kedua saya jaman Koas adalah forensik... ya stase yang terdengar serem, namun kenyataan nya lebih pahit.. ternyata stase ini bau sekali permirsaah

"Lagi stase apa?",
"Tahanan kota"
puk..puk...puk, yang sabar ya...

percakapan diatas ada lah contoh percakapan


'Ingat selalu bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada siapapun tamu yang datang dan kalian periksa, dan selalu berdoalah agar kelak dihindarkan dari forensik saat kematian mendatangi kalian'. Tamu adalah istilah halus untuk cadaver, istilah nya lagi adalah pasien yang datang ke departemen forensik, yaa pasien yang sudah tidak lagi bernyawa. Tidak setiap manusia meninggal harus dibawa ke forensik, hanya pasien yang meninggal secara tidak wajar, atau pasien rumah sakit yang tidak diketahui penyebab meninggalnya (ini lumayan jarang di Indonesia). Meninggal tidak wajar sering berkaitan dengan kasus-kasus kriminal, kecelakaan, bencana, atau ditemukan sudah tidak bernyawa dan tidak ada yang mengenalnya. See, tidak ada yang ingin singgah ke forensik.

eits... tapi jangan salah kaprah juga, ternyata sebagai koas saya menyadari satu hal, bahwa ternyata ada sebagian kasus forensik yang masih bernyawa. Meski kenyataannya pada beberapa kasus, dokter forensik tidak langsung bertemu dengan pasien, hanya bertemu dengan kertas-kertas dan foto untuk menjelaskan keadaan pasien saat diperiksan oleh dokter IGD. dan ini tentu saja berlaku untuk kasus-kasus kecelakaan dan kasus yang memerlukan keterangan dokter mengenai kondisi fisik dan mental pasien.
Pokoknya departemen forensik benar-benar cocok bagi dokter yang tidak terlalu suka sepik-sepik, ngobrol dan basa-basi dengan pasien, karena tidak ada pasien yang bisa diajak berbicara di departemen ini. Cocok untuk dokter tangguh yang berani berdebat di pengadilan karena tak jarang dokter forensik datang dan menjelaskan hasil pemeriksaan yang dilakukan seperti kasus Jessika dan sianida itu loo, dan tentu saya harus punya hidung tahan banting terhadap bau tak sedap selama berjam-jam.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar